Warsi dukung sinergi banyak pihak lestarikan bentang Bukit Tigapuluh

3 hours ago 3

Kota Jambi (ANTARA) - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mendukung sinergisitas dengan melibatkan banyak pihak sebagai upaya melestarikan bentang alam Bukit Tigapuluh kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).

Manajer Program Komunikasi dan Informasi KKI Warsi Rudi Syaf di Jambi, Kamis, mengatakan kerja bersama itu melibatkan berbagai pihak, berangkat dari kepedulian terhadap pelestarian lingkungan melalui upaya konservasi.

"Namanya Platform Kolaborasi Bukit Tigapuluh. Itu mencoba mengajak semua pihak yang ada di lanskap Bukit Tigapuluh untuk peduli dengan kondisi tutupan hutan di dalam taman nasional dan di luar taman (kawasan)," katanya.

Ia menjelaskan, program kolaborasi itu nantinya
akan melibatkan sejumlah pihak, termasuk masyarakat yang berada di bentang alam (lanskap) Bukit Tigapuluh.

Praktik baik yang akan dilakukan di antaranya menjaga bagaimana gajah di lanskap tersebut bisa selamat serta mampu berinteraksi positif dengan manusia.

Baca juga: BKSDA: TN Bukit Tigapuluh jadi habitat utama orang utan di Jambi

Ia menambahkan, forum itu akan menitikberatkan diskusi terkait keberlanjutan pelestarian terutama gajah yang berada di bentang alam tersebut.

"Ada masyarakat, bagaimana masyarakat bisa sejahtera dan bagaimana gajah bisa selamat, berinteraksi positif dengan dengan manusia. Tapi itu semacam forum diskusi, namanya Platform Kolaborasi Bukit Tigapuluh," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menyampaikan bahwa lanskap Bukit Tigapuluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.

Cakupan kawasannya meliputi dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas kurang lebih 270 ribu hektare.

Kawasan ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati dan menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah.

Ada sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah, 10 persen populasi harimau sumatera liar, serta orangutan sumatera yang hidup dan berkembang di lokasi habitat asli (reintroduksi) satwa.

Baca juga: BKSDA Jambi sebut ruang jelajah spesies kunci di TNBT menyempit

Menurut dia, lanskap itu menjadi areal penting dalam pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial dan berbatasan dengan areal-areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi lainnya.

Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat bagi spesies-spesies kunci dan ikonik Sumatera.

Ia menilai, diperlukan upaya bersama dalam perbaikan tata kelola lanskap agar dapat menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.

Selain itu, mampu menjaga keberadaan satwa-satwa ikonik Sumatera ini dalam kondisi yang baik serta populasi yang stabil dalam jangka panjang.

Hanya saja, upaya itu membutuhkan peran ataupun kontribusi positif para pihak terutama pemerintah baik pusat dan daerah, penggiat konservasi dan sosial di tingkat lokal dan nasional, serta akademisi.

Kemudian pengelola areal di tingkat tapak baik perusahaan swasta maupun masyarakat di dalam dan sekitar lanskap tersebut.

Baca juga: BKSDA Jambi berkolaborasi rencana aksi penyelematan gajah

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |