Jakarta (ANTARA) - Duta Besar China untuk ASEAN Wang Qing menyerukan supaya Indonesia dan China bahu-membahu menjunjung tinggi tatanan dan hukum internasional di tengah tergerusnya keyakinan terhadap multilateralisme.
“Kita mesti memperkuat kerja sama kita ke tingkatan multilateral. Kita dapat tunjukkan bersama bagaimana kita menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan fokus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bagaimana kita melindungi hukum internasional,” kata Dubes Wang dalam pertemuan dan dialog bersama media dan wadah pemikir di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan bahwa Indonesia dan China dapat mengagas upaya bersama untuk mencapai cita-cita sedunia yang digagas PBB, antara lain Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang sedianya ditargetkan tercapai pada 2030.
Indonesia dan China juga patut berkolaborasi untuk memajukan pembangunan bersama yang telah ditetapkan PBB. “Supaya kita bisa melakukannya bersama-sama,” kata Wang.
Lebih lanjut, Dubes Wang menyoroti posisi penting Indonesia di tingkat regional dan global. Indonesia, kata dia, tak hanya merupakan anggota ASEAN, tetapi juga merupakan bagian dari G20 dan BRICS.
Indonesia juga merupakan negara yang penting di kalangan Selatan Global, terlebih dengan posisinya sebagai penggagas Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang melahirkan Dasasila Bandung, kata dia.
“Indonesia sepatutnya memiliki peran yang lebih besar baik di tingkat internasional maupun regional,” kata Dubes Wang.
Sementara, China meyakini akan relevansi nilai “Lima Prinsip Koeksistensi Damai” sebagai landasan bagi hubungan antar-negara saat ini, yang prinsipnya antara lain mencakup kesetaraan bagi semua negara dan penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara.
“Saya pikir hal tersebut amat penting bagi tatanan internasional,” ucap Dubes China untuk ASEAN itu.
Adapun Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus menekankan komitmen Jakarta untuk memperkuat kerja sama multilateralisme di tengah dinamika dan lanskap global yang terus berubah, salah satunya dengan mendukung reformasi PBB.
“Bagi Indonesia, PBB yang efektif, inklusif, dan relevan dengan tujuan yang diembannya tetap menjadi hal yang sangat penting,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemlu Tri Tharyat dalam seminar bersama PBB di Jakarta, Rabu (11/3).
Baca juga: Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Baca juga: Dubes RI temui Wamenlu China bahas hubungan ekonomi dan teknologi
Baca juga: BI promosikan efisiensi transaksi keuangan lintas negara di China
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































