Menhut: Pagar pembatas TNWK ditargetkan selesai dalam empat bulan

2 hours ago 5

Bandarlampung (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan bahwa target penyelesaian pembuatan pagar pembatas atau barrier di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dapat selesai dalam empat bulan.

"Pembangunan pembatas ini bukan memisahkan antara satwa liar seperti gajah dengan masyarakat, melainkan menjaga agar semua tetap hidup berdampingan serta saling berdampak positif," ujar Raja Juli Antoni di Lampung Timur, Kamis.

Ia mengatakan pembangunan pembatas tersebut menjadi salah satu upaya Presiden melalui Dana Bantuan Presiden (Banpres) untuk menangani interaksi negatif satwa liar salah satunya gajah dengan masyarakat di taman nasional, sekaligus langkah membenahi taman nasional.

"Taman nasional di seluruh Indonesia jumlahnya ada sebanyak 57 lokasi, dan ini semua kaya akan keanekaragaman hayati yang harus dijaga. Pembangunan pembatas di Taman Nasional Way Kambas ini kita selesaikan dalam waktu empat bulan. Tidak perlu bertahap sampai bertahun-tahun, tapi program ini harus selesai sesuai waktu yang ditentukan sekitar empat sampai lima bulan paling lama akhir tahun," katanya.

Baca juga: Perkuat konservasi TNWK, Bupati Lamtim apresiasi komitmen pusat

Dia menjelaskan dengan pembangunan pembatas di Taman Nasional Way Kambas tersebut, maka lahan pertanian, kebun masyarakat tidak terganggu, kemudian tidak ada korban jiwa.

"Dan yang pasti Taman Nasional Way Kambas akan menjadi taman nasional yang benar-benar hutan serta satwanya terjaga dengan baik dengan berbagai keanekaragaman hayati, karena di sini ada harimau, badak, tapir, dan berbagai satwa lainnya. Dan gajah ini menjadi salah satu hewan kesayangan Presiden," ucap dia.

Menurut dia, pembangunan pembatas di Taman Nasional Way Kambas tersebut menjadi solusi permanen atas adanya interaksi negatif satwa liar dengan masyarakat.

"Pada intinya, perintah Presiden agar ini menjadi solusi yang permanen, dan tidak menimbulkan masalah baru. Tadi sudah ada masukan dari masyarakat, semua sudah didengar, pengalaman budaya lokal akan diterapkan. Bahkan nanti desainnya juga sangat lokal, sesuai Budaya Lampung. Sebab kami berharap ini akan berkelanjutan, sehingga konflik satwa manusia tidak akan pernah terjadi lagi," tambahnya.

Baca juga: Menhut: Pagar penghalang TNWK sepanjang 138 kilometer siap dibangun

Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |