Banda Aceh (ANTARA) - Sebanyak 151 keluarga penyintas bencana hidrometeorologi yang sebelumnya mengungsi di tenda-tenda di halaman masjid Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, direlokasi ke hunian sementara (huntara).
Keuchik (kepala desa) Meunasah Raya Abdul Halim Ishak yang dihubungi dari Banda Aceh, Kamis, mengatakan seratusan keluarga dengan 171 jiwa korban bencana tersebut direlokasi ke beberapa titik huntara.
"Sebanyak 151 keluarga dengan 171 jiwa warga kami yang sebelumnya mengungsi di tenda-tenda, sudah direlokasi ke huntara. Relokasi dilakukan sehari sebelum Lebaran kemarin," katanya.
Abdul Halim Ishak menyebutkan, warga Meunasah Raya yang ditempatkan di huntara tersebut merupakan korban bencana yang rumahnya mengalami rusak berat dan tidak dapat kembali.
Baca juga: BPBD: Lima keluarga penghuni huntara di Bener Meriah direlokasi
Warga Gampong Meunasah Raya yang rumahnya rusak berat ketika bencana hidrometeorologi akhir November 2025 mencapai 185 keluarga. Sebanyak 151 keluarga memilih hunian sementara dan 34 keluarga lainnya memilih dana tunggu hunian yang diberikan Rp1,8 juta untuk tiga bulan.
"Dengan direlokasi warga kami ke hunian sementara, maka tidak ada lagi pengungsi tenda-tenda pengungsian di halaman masjid Gampong Meunasah Raya. Tenda-tenda pengungsian sudah dibongkar," kata Abdul Halim Ishak.
Kendati warganya sudah di huntara, Abdul Halim Ishak menyebutkan masih ada beberapa persoalan yang dihadapi penyintas bencana di hunian sementara tersebut. Seperti distribusi air bersih ke unit hunian belum maksimal serta saluran pembuangan juga belum berfungsi.
"Kami berharap masalah air bersih dan saluran pembuangan segera diselesaikan. Warga juga meminta penambahan sumur bor serta bantuan peralatan memasak," kata Abdul Halim Ishak.
Baca juga: Pemkab Gayo Lues siapkan surat pelepasan hak lahan untuk huntap
Sementara itu, Rizwan, penyintas bencana dari Gampong Meunasah Raya yang kini menempati huntara, mengatakan kondisi unit hunian yang ditempatinya tidak ada air bersih.
"Dalam kamar mandi ada kran, tetapi air bersih tidak mengalir. Kami terpaksa mengambil air bersih dari masjid di lokasi pengungsian sebelumnya. Selain itu, pembuangan air tidak masuk ke saluran, tetapi menggenangi tanah di sekitar huntara," katanya.
Rizwan mengharapkan masalah distribusi air bersih dan saluran pembuangan tersebut segera diatasi. Air pembuangan yang menggenang di sekitar huntara jika dibiarkan juga berpotensi menimbulkan penyakit.
"Selain masalah tersebut, kami juga berharap bantuan lainnya seperti peralatan dapur maupun logistik lainnya, termasuk kebutuhan sekolah anak-anak setelah hari raya," kata Rizwan.
Baca juga: Korban bencana di Aceh Barat sepakat huni huntara setelah Idul Fitri
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































