Gubernur: SSH solusi pendidikan inklusif di Papua Tengah

2 hours ago 2

Nabire (ANTARA) - Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menyatakan program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) menjadi solusi nyata untuk mewujudkan pendidikan inklusif di wilayah tersebut, terutama bagi anak-anak di kampung yang menghadapi keterbatasan fasilitas dasar.

Hal itu disampaikan dalam talkshow capaian satu tahun kepemimpinan bersama Wakil Gubernur Deinas Geley di Nabire, Jumat, yang dipandu jurnalis senior Andy Noya.

Menurut Meki, program SSH merupakan pendekatan inovatif yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan geografis masyarakat Papua Tengah, sekaligus mendukung pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: Mimika siapkan dua sekolah di Kokonao terapkan program SSH

“Jika program MBG langsung diterapkan dari pusat, sementara anak-anak datang dari rumah dengan berbagai keterbatasan, maka sistem asrama menjadi sulit diterapkan secara menyeluruh. Karena itu, kami membuat konsep sekolah sepanjang hari,” katanya.

Ia menjelaskan SSH merupakan sekolah berpola asrama di mana anak-anak datang ke sekolah dan langsung mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makanan bergizi dan fasilitas kebersihan, termasuk sabun, handuk, serta sarana mandi.

Setelah sarapan, kegiatan belajar mengajar berlangsung sesuai kurikulum nasional, sementara pada sore hari siswa mendapatkan pendampingan tambahan untuk memperkuat keterampilan dasar dan keterampilan masa depan.

Saat ini terdapat sembilan SSH yang tersebar di delapan kabupaten di Papua Tengah. Pada 2025, pemerintah provinsi juga menetapkan tiga distrik di Kabupaten Puncak sebagai daerah percontohan pelaksanaan SSH, yakni Distrik Ilaka, Sinak, dan Dervos.

Sementara itu, akademisi Universitas Papua (Unipa) Agus Sumule mengatakan SSH merupakan konsep pendidikan inklusi yang dirancang untuk menjawab permasalahan pendidikan di Papua secara sistematis tanpa membebani pihak manapun.

Menurut dia, kekhawatiran mengenai tambahan beban kerja guru telah diantisipasi melalui sistem guru pendamping yang direkrut khusus untuk mendampingi siswa di luar jam belajar formal.

“Guru reguler hanya mengajar dari pagi sampai siang, setelah itu program dilanjutkan oleh guru pendamping yang memastikan anak-anak mendapatkan pendampingan akademik maupun keseharian,” ujarnya.

Baca juga: Pemprov PBD sinergikan program SSH dengan MBG

Baca juga: Sekolah Sepanjang Hari atasi putus sekolah di Sorong Selatan

Ia menambahkan sekolah dalam konsep SSH tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang sehat dan terlindungi, termasuk melalui penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar.

Program ini juga mencakup penguatan literasi baca tulis, matematika dasar, sains, literasi digital, literasi finansial, hingga pendidikan keluarga dan kebudayaan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya bisa membaca dan menulis, tetapi juga memahami teknologi, memahami kehidupan, dan tetap terhubung dengan budaya mereka,” kata Agus.

Ia menegaskan program SSH dijalankan secara bertahap dengan perencanaan fiskal realistis agar berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan berlebihan pada keuangan daerah.

Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |