Aceh Tengah (ANTARA) - Sejatinya bencana alam tak hanya memberikan dampak kerusakan fisik seperti bangunan namun juga melahirkan kerusakan nonfisik yang tak terlihat yakni trauma psikologis.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terpapar trauma psikologis pascabencana.
Notabene mereka akan merasa takut, cemas, hingga kehilangan rasa aman kerap membekas jauh lebih lama dibandingkan genangan air, endapan lumpur, atau puing-puing bangunan yang luluh lantak.
Setidaknya diperlukan waktu yang cukup lama tidak hanya satu atau dua tahun untuk bisa menghapus rasa trauma psikologis yang menjadi memori buruk pada anak-anak.
Di sudut tenda posko pengungsian Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, Aceh, Chairullah mengenakan baju koko, sarung, serta kopiah telah bersiap dengan beberapa kawannya yang duduk bersila di tikar lembab sehabis diguyur hujan.
Anak-anak penyintas bencana banjir Sumatera ini duduk melingkar, saling melihat satu sama lain untuk mencari satu dua ketukan aba-aba.
Lantun dindong dalam bahasa Aceh tak lama kemudian berkumandang dalam ketukan nada serempak.
Chairullah dan rekan-rekannya bersuka cita berbalas syair demi syair. Satu-satunya hiburan yang sejatinya mereka peroleh dari tenda panas posko pengungsian selama tiga bulan terakhir ini.
Menjelang berbuka tidak ada bola plastik yang mereka tendang. Lapangan bola mereka telah hilang diterpa banjir.
Hanya ada bongkahan batu dan tumpukan kayu yang membentang lapang. Chairullah dan kawan-kawan ngabuburit menyenandungkan elegi didong Gayo, kisah pilu yang mereka alami selama tiga bulan terakhir ini.
Didong Gayo merupakan kesenian khas masyarakat Gayo khususnya di Aceh Tengah dengan melantunkan perpaduan antara syair, tari, dan vokal.
Secara umum tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pria dewasa dengan tembang syair-syair tradisional yang dibuat oleh seorang pegiat.
Tradisi yang telah ada sebelum zaman kemerdekaan di tanah Gayo ini biasanya dilakukan ketika menyambut hari-hari besar maupun acara seperti pernikahan atau khitanan.
"Jadi didong Gayo ini sudah ada sebelum merdeka. Ini menceritakan tentang agama dan sejarah,” kata pegiat didong Gayo, Teuku Haji Muda.
Namun kini didong Gayo telah keluar dari pakem yang ada di zaman dahulu, dengan dapat ditembangkan oleh anak-anak tak secara khusus merujuk pada orang dewasa.
Selain itu makna yang terkandung dalam lantunan didong Gayo tak melulu mengenai agama dan sejarah namun juga membahas mengenai kritik sosial ataupun juga krisis ekologi.
Teuku Haji Muda yang menggubah lirik disenandungkan oleh Chairullah dan kawan-kawan mengungkapkan bahwa arti dari senandung tersebut yakni menceritakan mengenai krisis ekologi yang kini menimpa Aceh hingga terjadi banjir besar pada 25-30 November 2025.
"Bapak yang menciptakan syairnya. Di sinilah orang Aceh didong itu menciptakan syair bahkan dalam semalam bisa 50 lagu diciptakan," ungkap Teuku Haji Muda.
Anak-anak yang tanpa permainan yang dulunya kerap menjadi tempat menunggu berbuka puasa, Teuku Haji Muda memutuskan bahwa didong Gayo bisa dilantunkan untuk menemani anak-anak menunggu adzan Maghrib.
Selain itu ia berharap bahwa melalui lantunan yang sudah mengakar kuat di tanah Gayo ini, anak-anak bisa sedikit memperoleh medium penghilang trauma.
"Jadi istilahnya ini sebagai pengobatan psikologi. Biar jangan sampai anak-anak ini mengalami trauma," kata Teuku Haji Muda.
Elegi pelipur lara
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































