Batam (ANTARA) - Proyek pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) resmi memasuki tahap konstruksi setelah dilakukan groundbreaking di pulau itu.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, proyek tersebut akhirnya dapat direalisasikan setelah proses selama sekitar satu dekade.
“Alhamdulillah, setelah kurang lebih 10 tahun proyek ini akhirnya berjalan. Pipa ini dibangun untuk ketahanan energi nasional, dengan pasokan gas sebesar 111 BBTUD (miliar unit termal Inggris per hari) yang 100 persen akan dialihkan ke pihak PLN,” ujar Djoko di Batam, Selasa.
Ia mengatakan pipa gas WNTS Pulau Pemping dibangun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, bagian dari upaya penguatan ketahanan energi nasional dan keandalan pasokan listrik di Batam serta Sumatera.
Baca juga: SKK Migas dan PLN EPI sepakati penyambungan pipa gas WNTS-Pemping
Djoko menjelaskan, gas dari lapangan-lapangan di Natuna yang dikelola Medco, Harbour, dan Star Energy akan mengalir melalui pipa tersebut ke Batam.
Gas yang sebelumnya dialirkan secara langsung ke Singapura, katanya, akan dialihkan terlebih dahulu ke Batam dan Sumatera untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Gas akan langsung mengalir ke sini. Insya Allah pada bulan Juli nanti, dan ini semakin mendekatkan kita pada target pemanfaatan gas untuk kepentingan dalam negeri,” katanya.
Direktur Utama PLN Energi Primer Indonesia (EPI), selaku penanggung jawab proyek tersebut, Rakhmad Dewanto menyebut proyek pipa gas WNTS Pulau Pemping memiliki nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun.
Baca juga: PLN EPI dan Timas Suplindo Teken Kontrak Pipa Gas WNTS–Pemping Perkuat Ketahanan Energi Nasional
“Ini menjadi awal bersejarah dimulainya konstruksi pipa gas WNTS. Konstruksi dimulai pada Februari dengan target penyelesaian pada Juni, sehingga pada Juli gas diharapkan sudah dapat mendarat di Batam,” kata dia.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyambut baik dimulainya konstruksi pipa gas WNTS Pulau Pemping yang dinilai memberikan kontribusi nyata terhadap keandalan pasokan listrik di Batam.
“Pertumbuhan kebutuhan listrik di Batam terus naik, maka kita membutuhkan pasokan energi yang luar biasa untuk memastikan keandalan energi di Batam,” ujar Amsakar.
Ia menyebut kebutuhan listrik di Batam rata-rata meningkat 15 persen per tahun.
Baca juga: Pemerintah fokus optimalkan gas bumi dan energi baru terbarukan
Maka dari itu, Amsakar berharap proyek ini dapat selesai sesuai target sehingga mulai Juli gas sudah benar-benar dapat mengalir ke Batam.
"Namun saya juga menekankan pentingnya perhatian terhadap masyarakat lokal yang terdampak proyek, khususnya nelayan. Jadi tolong dipertimbangkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)," kata dia.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan daya saing investasi, dan menyerap tenaga kerja lokal di wilayah setempat.
Baca juga: BPH Migas dorong fasilitas FSRU guna perkuat pasokan gas bumi di Jatim
Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































