Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong penguatan pasar domestik sebagai langkah strategis untuk menjaga industri mebel dan kerajinan nasional di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur dalam keterangan di Jakarta, Jumat, menilai tekanan akibat konflik, seperti pelemahan nilai tukar bukan sekadar gejolak pasar biasa, namun pengingat agar pemerintah memperkuat pasar dalam negeri.
Dalam lima tahun terakhir, katanya, pergerakan nilai tukar mata uang terjadi seiring meningkatnya suku bunga global, konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok, serta penguatan dolar AS.
Menurut dia, di sektor mebel dan kerajinan yang menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga keterampilan kriya yang tinggi.
Baca juga: HIMKI catat transaksi furnitur di IFEX 2026 capai 300 juta dolar AS
Baca juga: HIMKI: RI punya keunggulan pacu industri furnitur di tengah konflik
Namun, tantangannya industri hilir kerap kekurangan bahan baku akibat masih terjadinya kebocoran ekspor bahan mentah keluar negeri. Di sisi lain, biaya logistik yang tinggi serta akses pembiayaan yang belum optimal semakin menekan daya saing pelaku usaha.
Menurut dia, ini mengakibatkan setiap kali ada ketegangan geopolitik yang berdampak pada nilai tukar, industri menghadapi tekanan berlapis, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga logistik, sementara peluang peningkatan daya saing tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan.
Lebih lanjut, HIMKI turut menyoroti masifnya produk impor dengan harga murah, yang kerap tidak memenuhi standar kualitas dan prinsip persaingan usaha yang adil.
Oleh karena itu, HIMKI mendorong pemerintah mengambil langkah strategis melalui kebijakan safeguard yang terukur guna melindungi industri nasional dari gempuran impor yang tidak kompetitif.
Menurut HIMKI, momentum tekanan global yang terjadi saat ini, harus dimanfaatkan sebagai titik balik untuk membangun kemandirian industri berbasis nilai tambah.
Sejumlah langkah konkret dinilai perlu dilakukan, yaitu pertama, menghentikan kebocoran bahan baku strategis seperti kayu dan rotan agar dapat diprioritaskan bagi industri dalam negeri.
Kedua, memperkuat pasar domestik melalui pengetatan impor barang jadi secara selektif, khususnya untuk produk yang sudah mampu diproduksi di dalam negeri dengan kualitas kompetitif.
Ketiga, memperkuat keberpihakan kebijakan industri melalui akses pembiayaan yang lebih kompetitif, efisiensi logistik, serta kepastian regulasi.
Keempat, memperkuat diplomasi dagang guna membuka akses pasar global yang lebih luas dan adil.
HIMKI mencatat nilai pasar global mebel mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS. Namun, ekspor Indonesia masih berada di kisaran 2,4 miliar dolar AS.
"Ini menunjukkan bahwa ruang untuk tumbuh masih sangat besar," katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat nilai tukar rupiah seharusnya menguat lantaran fundamental perekonomian nasional menunjukkan kinerja yang kuat.
Namun, ia menyerahkan strategi intervensi kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga: HIMKI yakin industri furnitur RI mampu penuhi kebutuhan pasar global
Baca juga: HIMKI fasilitasi ruang kolaborasi desainer, pacu industri furnitur RI
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































