Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengupayakan penyediaan ruang permainan tradisional di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta untuk menyediakan ruang sosial alternatif bagi anak-anak.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi dalam pernyataan di Jakarta, Senin, menyampaikan permainan tradisional berbasis kearifan lokal dapat menjadi pendekatan efektif dalam pemenuhan hak anak sekaligus pelestarian budaya bangsa.
"Dari kasus yang kami tangani langsung, 90 persen kekerasan yang melibatkan anak dipicu oleh penggunaan media sosial yang tidak bijaksana dan minim pendampingan. Anak-anak tidak bisa lagi sekadar dilarang bermain gawai. Karena itu, kami mencari solusi yang mampu menghadirkan interaksi langsung, nilai kebersamaan, dan pembentukan karakter," kata Menteri Arifah.
Ketika memberikan arahan dalam Musyawarah Nasional Ke-2 Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) pada Jumat (14/11), ia menyatakan kesiapan pihaknya memperluas penyediaan ruang tersebut ke seluruh provinsi.
Baca juga: Gubernur NTB ajak generasi muda ikut lestarikan permainan tradisional
Ia menjelaskan setiap permainan tradisional memiliki filosofi yang kuat, antara lain kejujuran, kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas yang secara alami menumbuhkan karakter anak Indonesia.
Sebagai langkah konkret, ia menyampaikan bahwa Kemen PPPA sedang mengupayakan penyediaan ruang permainan tradisional berbasis kearifan lokal di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) setiap akhir pekan, yang akan berkolaborasi dengan KPOTI.
Inisiatif itu akan diperluas ke seluruh provinsi agar anak-anak memiliki lebih banyak ruang sosial alternatif di luar penggunaan gawai.
Selain itu, Kemen PPPA mendorong pembentukan Museum Permainan Tradisional bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan sebagai upaya pelestarian budaya.
"KPOTI adalah mitra strategis kami dalam membangun kebersamaan, memperkuat karakter, dan menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah keberagaman bangsa. Jika kita bergerak bersama, saya yakin permainan tradisional akan menjadi kekuatan besar dalam membentuk generasi anak Indonesia yang berbudaya, tangguh, dan berkarakter," kata dia.
Ketua Umum KPOTI Pusat M Zaini Alif menyampaikan permainan rakyat dan olahraga tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa budaya yang membentuk cara berpikir, cara bekerja sama, dan cara bangsa memahami dunia.
Dia menyebut Indonesia bangsa yang lahir dari keberagaman. Hal itu tercermin dalam permainan tradisional, seperti congklak yang mengajarkan strategi dan kesabaran, gobak sodor yang menumbuhkan keberanian dan kerja tim, hingga tarik tambang dan egrang yang menegaskan pentingnya kekompakan dan keseimbangan antara tradisi serta modernitas.
"Dengan lebih dari 2.600 permainan rakyat dan olahraga tradisional, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak tertandingi di dunia. Jika diintegrasikan dalam pendidikan, ruang publik, serta aktivitas masyarakat, permainan tradisional akan menjadi fondasi penting pembentukan karakter nasional sekaligus simbol kecerdasan budaya Indonesia di mata dunia," ujar dia.
Baca juga: Festival Pakariang 2025 lestarikan permainan tradisional di Kupang
Baca juga: Permainan tradisional: menjemput keriangan yang tertinggal di halaman
Baca juga: KemenPPPA ajak keluarga hidupkan kembali permainan tradisional
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































