Beijing (ANTARA) - Seiring makin dekatnya Tahun Kuda, makin banyak wisatawan mancanegara (wisman) turut ambil bagian dalam kemeriahan perayaan tradisional Festival Musim Semi China atau Tahun Baru Imlek.
Dari jalan-jalan semarak di Shanghai hingga rumah panggung bersejarah di Provinsi Hunan, China tengah, Tahun Baru Imlek, yang tahun ini jatuh pada 17 Februari, telah berkembang menjadi ajang budaya berskala global, memicu lonjakan pariwisata inbound di China.
Data dari sejumlah platform perjalanan utama menunjukkan bahwa dalam beberapa pekan menjelang Tahun Baru Imlek, pemesanan penerbangan oleh wisman melonjak lebih dari 400 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Lonjakan jumlah pengunjung tersebut sebagian besar didorong oleh kebijakan fasilitasi perjalanan dan kebijakan bebas visa yang diperluas. Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2025, China memperluas penerapan akses bebas visa unilateralnya, yang membuat warga dari 48 negara bisa masuk tanpa visa, sementara jumlah negara yang menawarkan pembebasan visa resiprokal meningkat menjadi 29 negara.
Meskipun kota-kota tradisional, seperti Beijing, Shanghai, Chengdu, dan Guangzhou, tetap menjadi destinasi favorit, peta "China Chic" terus meluas. Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu di China barat laut dan Hohhot, ibu kota Daerah Otonom Mongolia Dalam, mencatatkan peningkatan jumlah pengunjung hingga empat kali lipat.
"Jumlah pengunjung inbound usia muda terus meningkat, dan pola belanja mereka kini lebih beralih pada pengalaman dibanding sekadar menikmati pemandangan," ujar Zhou Weihong, Wakil Manajer Umum Spring Tour yang berbasis di Shanghai.
Dari pasar-pasar yang ramai hingga museum berteknologi tinggi, wisman kini berburu pengalaman autentik kehidupan masyarakat China.
Di wilayah selatan China yang beriklim tropis, Provinsi Hainan menjadi destinasi utama untuk konsumsi berbasis pengalaman. Sejak Pelabuhan Perdagangan Bebas (Free Trade Port/FTP) Hainan secara resmi meluncurkan operasi bea cukai khusus di seluruh pulau itu pada akhir 2025, berbelanja telah menjadi bagian utama dari banyak itinerari.
Daria, seorang pengunjung dari Rusia yang baru saja membeli sebuah gawai tablet Honor di mal bebas bea di Hainan, menyebut bahwa harga yang ditawarkan "jauh lebih kompetitif."
Kate, yang sedang melakukan kunjungan keduanya ke provinsi berbentuk pulau tersebut, memuji kemudahan digital. "Menggunakan WeChat untuk transportasi dan pembayaran sangat mudah sehingga China telah menjadi destinasi favorit saya untuk bersantai," tuturnya, seraya menambahkan bahwa anak-anaknya kini menjadi penggemar kotak misteri (blind box) di toko ritel Miniso.
Musim liburan juga mulai terasa di kota-kota kecil yang kaya akan budaya. Mario, seorang wisatawan asal Roma, mengalami "kejutan pertamanya" di Kota Furong, sebuah destinasi wisata di Provinsi Hunan yang terkenal dengan air terjunnya dan warisan budaya etnis Tujia.
Mario mengaku sangat terpesona oleh kain brokat etnis Tujia, salah satu kerajinan warisan budaya takbenda. "Melihat jemari para perajin bergerak lincah menyusuri helaian benang. Ini bukan sekadar suvenir; ini adalah kisah yang ditenun menjadi kain sutra," ujarnya.
Saat malam tiba, kota tua itu bermandikan cahaya semarak ketika warga lokal dan wisatawan berkumpul membentuk lingkaran di sekitar api unggun yang menyala, menari mengikuti irama musik tradisional. Bagi Mario, keramahan penduduk setempat sama berkesannya dengan pemandangan alamnya.
"Ini adalah pengalaman budaya yang unik dan belum pernah saya rasakan di Italia. Pengalaman ini membuat saya semakin jatuh cinta pada budaya tradisional China," ujarnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































