Iran sebut Barat negosiasi nuklir setelah serangan militer "gagal"

2 months ago 15

Tehran (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Minggu (16/11) mengatakan pemerintah negara-negara Barat kembali mendesak untuk melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Teheran setelah "gagal" mencapai tujuan mereka melalui aksi militer baru-baru ini, demikian dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.

Araghchi mengatakan seruan untuk kembali berdialog merupakan hal yang "wajar" setelah kekuatan-kekuatan Barat "tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan terkait program nuklir Iran dari serangan militer." Dia menambahkan bahwa tidak ada solusi militer bagi sengketa ini.

Lebih lanjut menlu Iran itu mengatakan Iran tidak akan menerima proses negosiasi yang dilaksanakan di bawah tekanan, dan bahwa perundingan harus berlandaskan prinsip yang "masuk akal dan logis," bukan atas dasar "pemaksaan atau intimidasi."

Dikatakan oleh Araghchi bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak berhasil mencapai satu pun dari tujuan mereka melalui konflik terbaru.

Dia menambahkan bahwa meski serangan udara bisa merusak fasilitas nuklir, serangan itu tidak mampu menghancurkan kemampuan teknologi Iran maupun tekad rakyatnya. "Fasilitas kami hancur, tetapi teknologi kami tetap ada, dan tekad kami bahkan lebih kuat lagi," ujarnya.

Araghchi mengatakan Iran selalu siap untuk melakukan negosiasi serius dalam kondisi yang tepat. Dia juga menegaskan kembali bahwa diplomasi tetap menjadi "solusi utama" untuk menyelesaikan sengketa di kawasan tersebut.

Iran dan AS sebelumnya telah mengadakan lima putaran pembicaraan tak langsung yang dimediasi Oman mengenai isu nuklir dan pencabutan sanksi AS.

Kedua negara sedang bersiap untuk melakukan pembicaraan putaran keenam ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran pada 13 Juni terhadap situs-situs nuklir dan militer Iran, yang menewaskan sejumlah komandan senior, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Pada 22 Juni, pasukan AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |