Tumbuhnya sumber ekonomi baru nelayan di pesisir Pulau Kundur

9 hours ago 4
Dari desa yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil laut, kini tumbuh keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun bersama melalui pengetahuan, kerja gotong royong, dan keberanian memanfaatkan potensi yang selama ini terabaikan.

Jakarta (ANTARA) - Wajarnya nelayan hidup dari laut. Sayangnya laut kerap kali tak menentu. Meski begitu, tetap saja di banyak perkampungan nelayan di Indonesia, laut bukan hanya ruang hidup, tetapi juga penentu nasib.

Ketika cuaca bersahabat, penghasilan datang bersama hasil tangkapan. Namun, ketika ombak tinggi dan angin berubah arah, banyak keluarga harus menghadapi kenyataan bahwa pemasukan ikut berhenti.

Situasi seperti ini telah berlangsung lama di berbagai desa pesisir dan membentuk pola ekonomi yang sangat bergantung pada satu sumber penghidupan.

Oleh karena itu, ketika sebuah desa nelayan mulai berani membangun alternatif ekonomi dari potensi yang selama ini terabaikan, kisah tersebut menjadi penting sebagai inspirasi.

Perubahan itu misalnya mulai terlihat di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau. Lahan pesisir yang sebelumnya terbengkalai perlahan berubah menjadi ruang produktif yang menghadirkan harapan baru bagi masyarakat.

Melalui kelompok warga bernama Tuah Bersatu, masyarakat mulai membangun usaha bersama yang tidak hanya bertumpu pada laut, tetapi juga pada kemampuan mereka mengelola potensi desa secara lebih luas dan berkelanjutan.

Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran, mengisahkan gagasan tersebut lahir dari kegelisahan sederhana yang dirasakan banyak nelayan. Selama bertahun-tahun, kehidupan mereka berjalan dalam pola yang sama.

Setelah melaut, aktivitas ekonomi berhenti. Tidak ada sumber penghasilan tambahan yang bisa menopang kebutuhan keluarga ketika hasil tangkapan menurun. Dari situ muncul kesadaran bahwa desa membutuhkan usaha alternatif yang tetap sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong kelompok ini memanfaatkan lahan kosong di kawasan pesisir untuk budidaya ikan kakap putih pada 2022.

Program tersebut mulai berjalan aktif sejak 2023 dan berkembang perlahan sesuai kesiapan kelompok. Menariknya, pengembangan usaha dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru.

Setelah budidaya kakap putih berjalan, kelompok mulai mengembangkan hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah.

Langkah yang dilakukan Tuah Bersatu memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Perubahan justru sering lahir dari keberanian memanfaatkan ruang kecil yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Baca juga: KKP petakan potensi ekspor komoditas unggulan dari Kampung Nelayan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |