Peneliti: Keyakinan terhadap Imam Mahdi tak buat santri jadi radikal

1 hour ago 3

Semarang (ANTARA) - Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Ahmad Muthohar menyampaikan bahwa keyakinan terhadap Imam Mahdi tidak berujung pada gerakan politik radikal, melainkan justru memperkuat moderasi beragama.

"Selama ini narasi Islam transnasional seringkali mengeksploitasi doktrin Imam Mahdi untuk memobilisasi massa guna merestorasi sistem khilafah," katanya, di Semarang, Rabu.

Dalam penelitiannya yang menjadi disertasi doktoral berjudul "Relasi Paradoksal antara Mahdiisme dan Gerakan Anti Khilafah: Studi atas Perilaku Politik Santri", ia justru menemukan realitas yang berbeda di Indonesia, terutama di kalangan santri.

Menurut dia, terdapat paradoks yang produktif bahwa santri tetap meyakini eskatologi Imam Mahdi sebagai kerangka etis, namun di sisi lain mereka menjadi garda terdepan dalam menolak gerakan khilafah kontemporer.

Melalui pendekatan kualitatif dan analisis teologi kritis, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa keyakinan pada Imam Mahdi di pesantren dialihkan menjadi energi untuk kesalehan personal dan perbaikan etika sosial, bukan tuntutan politik institusional.

Selain itu, pemaknaan doktrin yang beragam menghasilkan perilaku politik yang tetap berkarakter moderat dan menghargai ruang publik.

Baca juga: PBNU harap masyarakat tak lengah dengan pergerakan kelompok radikal

Penelitian itu juga menemukan bahwa semakin kritis pemahaman santri terhadap teks maka semakin kuat penolakan mereka terhadap khilafah, karena sistem tersebut dianggap sebagai produk sejarah, dan bukan keharusan teologis yang harus direplikasi dalam negara bangsa modern.

Salah satu sumbangsih intelektual terbesar dari disertasi tersebut adalah lahirnya konsep paradoks produktif Mahdiisme.

Konsep tersebut menjelaskan bagaimana sebuah keyakinan pada masa depan atau akhir zaman justru dapat dikelola menjadi perilaku politik yang konstruktif di masa kini.

"Penelitian ini membuktikan bahwa Mahdiisme di kalangan santri bukanlah motor radikalisasi. Sebaliknya, hal tersebut berfungsi sebagai penguat komitmen kebangsaan, penerimaan terhadap kebhinnekaan, serta pengukuhan legitimasi terhadap Pancasila dan NKRI," katanya.

Dengan penelitian doktoralnya itu, Muthohar sukses menyandang gelar doktor bidang studi Islam dan tercatat sebagai doktor ke-407 UIN Walisongo Semarang.

Baca juga: Budayawan: Pelajari agama dan pahami tradisi hindari terjebak radikal

"Saya berharap kajian ini dapat memberikan perspektif baru bagi pembuat kebijakan dan akademisi dalam melihat relasi antara teologi dan politik di Indonesia secara lebih kontekstual dan non-reduksionistik," katanya.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |