Makkah (ANTARA) - Derai air mata Tsamrotul Fuadah (53) tak terbendung, kala matanya menatap wujud nyata Ka'bah untuk pertama kalinya. Duduk di atas kursi roda di tengah hamparan Masjidil Haram, calon haji asal Tangerang Selatan itu bersimpuh dalam haru, merapal asma-asma Allah tanpa henti.
Penantian panjang selama 15 tahun akhirnya terbayar, meski harus dilalui dengan ujian fisik yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.
"Saya tidak bisa melukiskan dengan kata-kata, setelah menjalankan umrah wajib, terutama dengan semangat anak saya yang membuktikan baktinya kepada ibunya," tutur Fuadah, dengan suara bergetar saat ditemui di Makkah.
Bagi Fuadah, seorang guru di SD swasta di Ciputat, perjalanan menuju Baitullah ini adalah buah dari kesabaran yang berlapis-lapis. Lima belas tahun lalu, ia mendaftar haji bersama sang suami tercinta.
Namun, takdir berkata lain. Sang suami berpulang ke Rahmatullah pada 24 Desember 2024 akibat sakit jantung. Posisinya kemudian digantikan oleh putra bungsunya, Muhammad Amri Lubab (24), melalui skema pelimpahan porsi.
Ujian bagi Fuadah rupanya belum usai. Tepat sehari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, pada pagi hari tanggal 22 April, saat acara pelepasan jamaah calon haji di Masjid Islamic Center BSD,, insiden nahas terjadi.
Di tengah suasana hati yang penuh optimisme dan langkah yang ceria, Fuadah yang berada di barisan depan rombongannya tidak menyadari adanya anak tangga yang menurun.
Satu langkah yang salah mengubah segalanya. Ia terjatuh, memaksanya harus dievakuasi menggunakan kursi roda dan ambulans.
Dari titik itu, dimulailah serangkaian drama medis yang menguras air mata. Rangkaian rujukan dari asrama haji di Cipondoh, hingga ke RSUD Kota Tangerang, harus ia jalani. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya otot yang robek, sebuah kondisi yang nyaris mengubur impiannya untuk terbang ke Tanah Suci.
Namun, takdir Allah rupanya tengah menguji, sekaligus meninggikan derajatnya. Di tengah kekhawatiran batal berangkat, tim dokter menyatakan bahwa Fuadah memenuhi syarat istitha'ah (kemampuan) kesehatan untuk terbang.
"Saat dokter membacakan bahwa istitha'ah saya tetap diberlakukan dan saya bisa terbang, semuanya ikut menangis terharu. Teman-teman di asrama semua ikut menangis. Kalau saya sudah dipanggil oleh Yang Mempunyai Rumah, insya Allah saya akan mendapatkan pelayanan yang baik," kenangnya sembari menyeka air mata.
Berangkat dengan ambulans secara terpisah dari rombongannya, Fuadah mendapatkan fasilitas kursi kelas bisnis di pesawat Garuda Indonesia berkat kebaikan hati ketua kloter demi menjaga posisi kakinya.
Setibanya di Madinah, Fuadah langsung dirujuk ke Saudi German Hospital. Dari hasil rontgen lanjutan, terungkap bahwa tulang di bawah lututnya mengalami patah melingkar. Operasi selama lima setengah jam pun harus dijalaninya di Madinah, dilanjutkan dengan masa pemulihan intensif bersama tim fisioterapi.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































