Praktisi soroti perlunya Indonesia berbicara lebih banyak dengan Iran

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif sekaligus Pendiri Synergy Policies Dinna Prapto Raharja menilai bahwa Indonesia perlu berbicara lebih banyak dengan Iran dan pihak-pihak lain yang tertindas, menyusul gejolak global akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran.

"Kita harus lebih banyak bicara pada pihak-pihak yang selama ini tertindas," kata Dinna dalam Diskusi Publik tentang Asia Tenggara di Tengah Gejolak Geopolitik, Jakarta, Senin.

Masyarakat internasional, kata dia, tahu negara mana yang memulai konflik, menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, sehingga memicu gejolak geopolitik saat ini.

Selain untuk meredam dampak yang muncul akibat gejolak tersebut, pendekatan dan dukungan Indonesia terhadap Iran, menurut dia, penting dilakukan untuk menunjukkan solidaritas terhadap pihak-pihak yang tertindas.

"Jadi, janganlah kita berpihak pada parties to the conflict yang selama ini melakukan eskalasi terus," katanya.

"Karena kelompok-kelompok yang enggak bisa bicara di tingkat global itu sebenarnya ikut menentukan. Karena yang melakukan agresi, invasi, itu kita bisa tahu jelas siapa. Tetapi, kelompok-kelompok lain yang enggak bisa berkata apa-apa itu jauh lebih banyak jumlahnya," katanya lebih lanjut.

Dinna mendorong pemerintah untuk sebaliknya menggalang dukungan bagi Iran, terutama saat kedua negara juga menjadi anggota di dalam sejumlah forum atau kelompok yang sama, seperti di D8, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Gerakan Non-Blok, dan BRICS.

"Secara internasional kita sudah tahu bahwa Iran itu menjadi pihak yang diserang. Kedua, Iran itu adalah anggota dari sejumlah kerja sama yang kita juga ada di dalamnya. Lalu ketiga, kita harus bicara atas nama kemanusiaan," demikian katanya.

Dinna menyampaikan pernyataan tersebut menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran yang menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di kalangan masyarakat sipil, serta dampak strategisnya terhadap keamanan energi global.

Secara khusus, dampak tersebut, kata dia, sangat berpengaruh terhadap negara-negara di Asia Tenggara karena sebagian besar negara-negara di kawasan tersebut merupakan importir minyak.

"Semua negara di Asia Tenggara itu beli. Jadi, kita tergantung sekali pada kesiapan atau keberadaan energi itu," demikian katanya.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |