IDAI beberkan kiat beri penanganan darurat pada anak tersedak

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membeberkan kiat untuk memberikan penanganan darurat pada anak-anak menggunakan metode yang dapat diikuti masyarakat umum.

"Kalau dewasa kita pakai C-A-B atau kompres dada, jalan napas dan pernapasan. Kalau anak A-B-C, dimana A itu jalan napas, B napasnya, kemudian C baru jantungnya," kata Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K) dalam temu media di Jakarta, Senin.

Yogi mengatakan untuk memberikan penanganan darurat masyarakat perlu mengetahui terlebih dahulu usia anak yang tersedak. Pembagian usia menurut IDAI yakni bayi di bawah 1 tahun dan ada anak 1-8 tahun dan remaja seperti dewasa.

Hal berikutnya yang dapat dilakukan adalah memantau kondisi terkini anak. Perlu dipahami bahwa anak yang masih bisa menangis dengan keras dan batuk-batuk kuat menandakan jalan napas masih terbuka.

Anak yang mengalaminya dapat didudukkan dengan nyaman dan dipantau lebih lanjut seperti ada atau tidaknya penyebab anak tersedak dalam mulut.

Pada anak-anak yang menunjukkan sumbatan jalan napas seperti batuk melemah, sulit bernapas, bibir membiru dan mengeluarkan suara rintihan, orang tua dapat melakukan teknik kombinasi back blow dan chest thrust.

Namun sebelumnya, pastikan situasi aman, tenang dan segera panggil bantuan seperti ambulans melalui nomor 112 dan 119 serta letakkan anak pada bidang yang datar untuk memaksimalkan pemberian tekanan.

"Kita tidak menyarankan meraba nadi karena susah. Jadi ingat saja tiga tanda kehidupan yaitu bergerak, bernafas dan batuk. Kalau ada ketiganya tidak perlu kompresi dada. Kalau tidak ada ketiganya? Maka langsung kita kompresi dada," ucap dia.

Dalam melakukan back blow pastikan posisi kepala anak lebih rendah dari tubuhnya. Tujuannya adalah memanfaatkan gravitasi untuk mengeluarkan benda asing penyebab tersedak.

Back blow dapat dilakukan sebanyak lima kali sebagai permulaan. Caranya yakni dengan memberikan hentakan menggunakan bagian bawah telapak tangan di antara kedua tulang belikat.

Hentak punggung anak dari jarak dekat guna memberikan efek kejut sehingga benda asing dapat keluar. Jika diterapkan secara tepat, akan keluar suara berupa hembusan udara dari mulut anak.

Setelahnya, periksa apakah anak kembali bernapas atau masih tersedak. Jika benda tersebut masih tersangkut dapat dilakukan dengan memberikan chest thrust sebanyak lima kali.

Dia menyampaikan metode dapat diulangi secara bergantian. Hal yang diharapkan dari pemberian penanganan darurat adalah jalur napas dapat terbuka kembali.

Selanjutnya pada anak-anak yang sudah tidak sadar, Yogi menyebut penanganan dapat dilanjutkan menggunakan metode resusitasi jantung paru (RJP).

Caranya yaitu dengan memeriksa tiga tanda kehidupan yang berupa pergerakan, adanya napas dan dada yang naik turun. Dia tidak menyarankan bagi orang awam melakukan periksa denyut nadi karena sulit dan memakan waktu​​​​.

Kemudian tekan dada sebanyak 15 kali mengikuti irama detik dengan menekan bagian tengah dada atau setara dengan garis puting turun sedikit, dengan perkiraan kedalaman 4 sentimeter bagi bayi berusia di bawah satu tahun.

Apabila tidak ada tanda pernapasan, orang tua atau pihak yang membantu dapat memberikan bantuan napas dengan menggunakan masker satu arah jika tersedia di rumah. Bila tidak ada, satu tangan dapat digunakan untuk mengadahkan kepala anak dan satu tangan lainnya menekan bagian dada.

"Dulu kita menggunakan metode mouth-to-mouth (dari mulut ke mulut), tapi semenjak COVID-19 hal itu tidak digunakan lagi karena takutnya anak mengalami infeksi dan terjadi penularan," ujarnya.

Pada tahap awal chest thrust bisa diberikan sebanyak lima kali, dan dapat diulangi sebanyak dua kali pada tahap-tahap berikutnya.

Lebih lanjut menurut dia, memberikan minum setelah anak sadar dan mampu bernapas dengan normal kembali tidak dianjurkan guna mencegah insiden kembali tersedak. Setelah memastikan anak dalam kondisi aman, orang tua juga dianjurkan untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Yogi mengingatkan orang tua dan pihak yang membantu tidak perlu ragu untuk memberikan penanganan darurat pada anak yang sedang tersedak.

Baca juga: IDAI anjurkan anak berada dalam ruangan selama ada El Nino Godzilla

Baca juga: IDAI: Pengentasan campak dan polio butuh imunisasi yang merata

Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Cabang DKI Jakarta (IDAI JAYA) Dr. Tuti Rahayu, Sp.A, Subsp. ETIA (K) menyebut kebanyakan anak tersedak yang dibawa ke rumah sakit sudah dalam keadaan sulit bernapas dan bibir membiru.

Padahal penanganan pada anak sangat bergantung pada kecepatan untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, sehingga setiap waktunya menjadi sangat berharga.

Salah satu risiko yang disebutnya dapat diderita anak yang kesulitan mendapat oksigen selama tiga menit yakni kerusakan otak secara permanen.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |