Jakarta (ANTARA) - Forum konsultasi pemuda “Ctrl+Youth: Membentuk Masa Depan Digital ASEAN” menegaskan peran strategis generasi muda dalam menentukan arah transformasi digital kawasan.
Kegiatan yang digelar di Auditorium GT-Toyota Asian Center, Universitas Filipina di Diliman, Quezon City, Filipina itu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas kontribusi pemuda dalam ekosistem digital ASEAN.
Menteri Departemen Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Filipina, Rex Gatchalian, yang menyelenggarakan acara tersebut bersama inisiatif pemberdayaan pemuda Tayo ang Taya, menekankan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi yang kian cepat.
“Dengan meningkatnya kecerdasan buatan (AI) dan teknologi baru, kami menyadari perlunya memastikan bahwa generasi muda kita tidak hanya dibekali dengan keterampilan teknis tetapi juga dengan nilai-nilai yang menjunjung tinggi tanggung jawab, inklusivitas, dan inovasi,” katanya, sebagaimana keterangan pers ASEAN Philippines 2026, Rabu (6/5).
Ia juga menyoroti bahwa pergeseran global menuju sistem digital dan hibrida semakin menegaskan pentingnya ketahanan digital.
“Pergeseran global baru-baru ini menuju sistem digital dan hibrida semakin menyoroti pentingnya ketahanan digital,” kata Gatchalian dalam pesan video kepada peserta.
Dalam sambutannya di hadapan para pemimpin dan organisasi pemuda, Gatchalian menegaskan bahwa partisipasi aktif generasi muda menjadi kunci dalam mendorong masa depan digital kawasan.
“Pada 2026 ini, kita fokus untuk memastikan bahwa generasi muda kita siap berpartisipasi dalam ekonomi digital global sekaligus mempromosikan penggunaan teknologi yang etis dan bertanggung jawab,” katanya.
Ia menambahkan bahwa suara pemuda memiliki peran penting dalam membentuk Visi Komunitas ASEAN 2045, termasuk dalam memberikan masukan bagi kebijakan yang relevan dengan realitas dan aspirasi generasi saat ini.
“Di DSWD, kami percaya bahwa komunitas yang berdaya secara digital dan inklusif adalah kunci untuk membangun keluarga yang lebih kuat dan Komunitas ASEAN yang lebih inklusif,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Kelompok Kebijakan dan Perencanaan DSWD, Adonis Sulit, menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam proses ASEAN, khususnya dalam pilar sosial budaya.
“Menteri (Gatchalian) selalu melihat bahwa kita perlu melibatkan sebanyak mungkin kaum muda ketika kita memimpin ASEAN. Karena itulah, melalui bantuan organisasi pemuda dan Komisi Pemuda Nasional, kami menyelenggarakan konsultasi ini,” katanya.
Ia juga menyoroti peran konsultasi dalam penyusunan rancangan piagam ketahanan digital ASEAN.
“Pilar sosial budaya ASEAN memiliki sektor terbanyak dan salah satu sektor tersebut adalah pemuda. Itulah mengapa DSWD melakukan ini dalam kemitraan dengan berbagai organisasi pemuda, karena pemuda adalah salah satu sektor di bawah komunitas sosial budaya,” ujarnya.
Forum Ctrl+Youth mempertemukan pemimpin muda dari organisasi masyarakat sipil, kelompok mahasiswa, organisasi berbasis komunitas, hingga para advokat muda. Mereka terlibat aktif dalam diskusi kelompok terarah untuk menyusun manifesto terkait penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan keamanan digital.
Bagi para peserta, forum ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat peran mereka dalam membentuk masa depan digital.
Konsultasi tersebut juga mencerminkan komitmen DSWD terhadap tata kelola yang inklusif dengan memastikan suara pemuda Filipina terintegrasi dalam kontribusi nasional terhadap agenda digital dan visi jangka panjang ASEAN.
Baca juga: ASEAN-COCI jadi ruang perkuat kerja sama bidang budaya hingga media
Baca juga: Menlu Retno: Pemuda dan ekonomi digital pondasi pertumbuhan ASEAN
Pewarta: Katriana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































