China (ANTARA) - Mitra pemasok Chery Automotive, Chaowei Group, telah mengaktifkan jalur produksi komponen utama tanpa lithium untuk mendukung segmen transportasi listrik yang terjangkau, dengan memproduksi baterai berbahan dasar natrium.
Menurut laporan kapasitas industri dari CBEA, yang dikutip laman warta otomotif China, Carnewschina, Selasa (16/6) waktu setempat, kegiatan manufaktur secara resmi dimulai di pusat infrastruktur produksi baterai natrium di Anqing pada 13 Juni 2026.
Tata letak produksi dikelola oleh anak perusahaan manufaktur, Anqing Chaoren Energy Technology, yang akan memproduksi sel baterai traksi untuk suhu rendah.
Proyek pengembangan industri ini memiliki total investasi sebesar 3,5 miliar yuan (Rp9,18 triliun) dan kapasitas produksi tahunan awal sebesar 2 GWh.
Baca juga: BAIC kembangkan baterai ion natrium dapat terisi penuh dalam 11 menit
Sifat fisik ion natrium mengharuskan perubahan menyeluruh pada kimia sel baterai konvensional. Karena ukuran ion natrium sekitar 30 persen lebih besar dibandingkan ion lithium, anoda grafit standar tidak mampu mendukung proses penyisipan ion secara optimal.
Karbon keras (hard carbon) menjadi material utama yang menentukan batas bawah harga dalam industri baterai natrium.
Para pengembang material di hulu saat ini terlibat dalam persaingan rantai pasok yang ketat antara varian karbon keras berbasis batu bara dan berbasis resin sintetis.
Baca juga: CATL luncurkan baterai ion natrium produksi massal pertama di dunia
Wanhua Chemical menjalankan program rekayasa secara paralel untuk memenuhi berbagai strategi biaya dan performa kendaraan. Resin fenolik sintetis premium menawarkan kapasitas spesifik sebesar 335 mAh/g serta kemampuan pelepasan daya kontinu berkecepatan tinggi hingga 10C.
Sebaliknya, alternatif berbasis batu bara memanfaatkan produk sampingan lokal yang melimpah untuk mencapai pengurangan biaya semaksimal mungkin.
Data industri menunjukkan bahwa harga karbon keras berkisar antara 60.000 yuan (Rp157,5 juta) hingga 70.000 yuan (Rp183,7 juta) per ton selama tahun 2024. Proyeksi menunjukkan biaya tersebut dapat turun menjadi 35.000 yuan (Rp91,8 juta) per ton.
Baca juga: CATL konfirmasi penerapan baterai ion natrium skala besar tahun 2026
Perubahan ini mempercepat tercapainya kesetaraan biaya antara baterai ion natrium dan baterai lithium, dengan target dasar biaya sebesar 40.000 yuan (Rp105 juta).
Biaya material yang lebih rendah memungkinkan fasilitas pabrik berkapasitas total 6,5 GWh mengoptimalkan biaya perakitan sel baterai akhir.
Kerangka ini juga sejalan dengan transisi industri yang lebih luas, termasuk penerapan platform baterai natrium oleh CATL dan Changan yang menyasar kendaraan kelas entry-level.
Baca juga: CATL klaim baterai natrium-ion generasi baru mampu tempuh jarak 500 km
Produksi bahan prekursor lokal meningkat pesat untuk menjamin ketersediaan pasokan bagi lini produksi baterai yang aktif.
Shaanxi Coal baru-baru ini memperoleh persetujuan pemerintah kota untuk proyek konversi pabrik senilai 5.073.400 yuan (Rp13,3 miliar) guna menghasilkan pasokan karbon keras sebanyak 1.000 ton per tahun.
Optimalisasi ini bertujuan memastikan ketersediaan komponen dalam negeri yang stabil bagi rantai pasok otomotif yang ingin memperkuat ketahanan jaringan pabrik mereka.
Baca juga: CATL umumkan perkembangan baterai natrium generasi kedua
Baca juga: JAC Group mengubah lanskap baterai EV melalui natrium-ion
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026


















































