Wamenekraf dorong IP lokal dengan pendekatan kolaborasi hexahelix

3 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong pengembangan intellectual property (IP) lokal melalui pendekatan kolaborasi hexahelix.

Wamenekraf Irene mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang sudah mendukung IP lokal serta perjuangan ekonomi kreatif Indonesia. Pendekatan hexahelix dinilainya penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.

“Tanpa dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak dalam bentuk hexahelix, maka akan susah sekali untuk Indonesia bisa maju ke depan. Asas dari Indonesia adalah gotong royong,” kata Irene Umar dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Film “Pelangi di Mars” sapa publik lewat balon raksasa

Wamenekraf Irene mengatakan bahwa ekonomi kreatif Indonesia bukan lagi sekadar potensi, melainkan kekuatan nyata. Hal ini terbukti dari kualitas talenta kreatif Indonesia yang sudah ada sejak lama dan perlu didukung dengan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan level industri.

“Sekarang bagaimana kita mencari hidden gems ini supaya semuanya dipaksa untuk berkolaborasi dan supaya bisa naik level bareng-bareng. Kuncinya adalah kolaborasi kita menaikkan levelnya Indonesia,” tuturnya.

Dalam hal ini, Wamenekraf Irene mengapresiasi kehadiran film “Pelangi di Mars” sebagai salah satu karya anak bangsa yang dinilai membangkitkan kekayaan IP lokal.

Baca juga: Film "Pelangi di Mars" dijadwalkan tayang di bioskop pada 18 Maret

Menurut dia, film “Pelangi di Mars” bukan hanya pencapaian perfilman Indonesia namun juga kemajuan teknologi anak bangsa.

“Pas ngelihat studionya itu merupakan satu kebanggaan banget, ada hidden gems bikinan anak-anak bangsa. Ini bukan hanya pencapaian sebuah film Indonesia, tapi juga perkembangan teknologi, melihat plugin atau teknologi yang sudah dikembangkan oleh anak bangsa ini,” tutur Irene.

Irene mengaku sempat meminta untuk menonton filmnya terlebih dahulu sebelum memberikan dukungan.

Baca juga: Messi Gusti ceritakan pengalaman syuting dengan teknologi XR

Setelah menonton dari awal hingga akhir ia merasakan kebanggaan terhadap film “Pelangi di Mars”, di mana tidak hanya dari sisi teknis produksi, tetapi juga dari cara penyampaian cerita yang dinilainya menyentuh.

“Film ini sangat rare moments banget karena ada moral-moral dan etika-etika yang harus ditanamkan dari kecil,” imbuh dia.

Wamenekraf Irene juga mengapresiasi film “Pelangi di Mars” tidak hanya memikirkan aspek cerita, tetapi juga strategi komersialisasi, serta merchandising.

Menurut Irene, perjuangan para kreator film tersebut mencerminkan semangat pejuang ekonomi kreatif yang meski proses awal membangun karya penuh tantangan.

Baca juga: Wajah baru film Indonesia, Ifan Seventeen ajak jadi saksi sejarah

“Dan saya berharap teman-teman di seluruh Indonesia bisa merasakan cintanya dari ‘Pelangi di Mars’ ini dan bisa membangkitkan bangga akan IP lokal Indonesia. Jadi bukan sekadar, 'Kita bangga IP lokal', tapi itu bukan sesuatu yang hanya dikatakan tapi dirasakan,” imbuh dia.

“Pelangi di Mars” merupakan film fiksi ilmiah keluarga Indonesia yang disutradarai oleh Upie Guava menghadirkan petualangan yang sarat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan harapan melalui animasi 3D dan teknologi XR.

Dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata, dengan dukungan pengisi suara Kristo Immanuel, Bimoky, “Pelangi di Mars” dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada momen Lebaran 2026.

Baca juga: Kemenekraf dukung promosi film Pelangi di Mars bersama InJourney

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |