Jakarta (ANTARA) - Organisasi kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) menentang izin investasi dan operasional yang diberikan pemerintah RI kepada dua perusahaan yang terafiliasi dengan Israel.
Kedua perusahaan itu adalah PT Ormat Geothermal Indonesia yang beroperasi di Maluku Utara dan PT Volex Indonesia di Kepulauan Riau.
"Aqsa Working Group (AWG) menilai langkah tersebut sebagai kebijakan yang bertentangan dengan prinsip dasar konstitusi serta arah politik luar negeri Indonesia yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina," kata Ketua Presidium AWG Muhammad Anshorullah dalam pernyataan pers pada Kamis (19/2).
AWG mengatakan pemberian izin terhadap kedua perusahaan itu bertentangan dengan janji politik Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang salah satunya menyebutkan tentang ekonomi yang menjunjung tinggi kemanusiaan.
Organisasi kemanusiaan itu juga menekankan bahwa pemberian izin kepada entitas yang terafiliasi Israel dapat diartikan sebagai langkah hipokrit: menentang penjajahan Zionis Israel sambil memfasilitasi ekonomi mereka untuk memperkuat penjajahan atas Palestina.
AWG mengatakan mereka menentang keras setiap pemberian izin operasional kepada perusahaan yang terafiliasi dengan Zionis Israel di Indonesia karena bertentangan dengan prinsip anti-penjajahan, merusak konsistensi diplomasi Indonesia, serta berpotensi melemahkan kredibilitas internasional bangsa.
Organisasi itu mendesak pemerintah untuk segera mencabut dan membatalkan seluruh izin bagi dua perusahaan tersebut, serta memprioritaskan mitra investasi alternatif yang memiliki rekam jejak etis, transparan, serta tidak memiliki keterkaitan dengan konflik kemanusiaan.
Baca juga: AWG: Trump gunakan Dewan Perdamaian Gaza untuk kepentingan Israel
Baca juga: AWG: RSIA Indonesia di Gaza siap dibangun begitu perbatasan dibuka
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































