Jakarta (ANTARA) - Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai bahwa secara ilmiah, kemungkinan kendaraan mati akibat pengaruh gelombang elektromagnetik dari rel kereta sangat kecil.
“Dari beberapa pihak menyebutkan gelombang elektromagnetik yang terjadi di rel kereta sebetulnya tidak cukup kuat untuk mematikan mesin ICE, apalagi menonaktifkan BEV,” ujar Bebin ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Hal ini dikemukakan Bebin menyingkapi dua kasus kecelakaan antara kereta api dan mobil dalam sepekan terakhir di Bekasi Timur dan Grobogan, di mana dalam dua kasus tersebut mobil mengalami mati mesin saat berada di atas perlintasan kereta.
Baca juga: Ahli ungkap kemungkinan pemicu kecelakaan KA yang melibatkan mobil
Ia mengungkapkan, fenomena kendaraan mati di perlintasan rel masih menimbulkan tanda tanya jika dikaitkan dengan faktor teknis tersebut.
“Jadi apa yang sebetulnya terjadi terasa aneh karena secara ilmiah tidak terbukti,” katanya.
Menurut Bebin, penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan secara pasti tanpa bukti yang jelas.
Ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan, termasuk mengaitkannya dengan faktor tertentu yang belum terverifikasi.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya aspek keselamatan di perlintasan sebidang, terutama di wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi.
Bebin menilai keberadaan perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan kecelakaan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Yang jelas perlintasan sebidang sebaiknya sudah ditiadakan di tempat-tempat yang padat penduduknya,” kata dia.
Baca juga: KAI: Mobil langgar perlintasan sebabkan insiden KA di Cilacap
Baca juga: Flyover, solusi mendesak untuk hindari kecelakaan kereta
Baca juga: Pengamat soroti pentingnya sinergi Pusat-Daerah atasi perlintasan liar
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026


















































