Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menyampaikan bahwa dana desa perlu diarahkan untuk mengakomodasi isu perubahan iklim, seiring meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi yang banyak berdampak pada wilayah perdesaan.
“Salah satunya adalah bagaimana dana desa mengakomodasi isu iklim,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo dalam Workshop Formula Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) sebagai Insentif Tambahan Dana Desa di Daerah Tertinggal yang digelar di Kantor Ditjen PPDT Kemendes PDT, Jakarta, Kamis.
Dalam forum pembahasan kebijakan iklim itu, Samsul menyampaikan bahwa integrasi isu perubahan iklim dalam perencanaan dan penganggaran desa menjadi kebutuhan mendesak. Ia pun menekankan bahwa instrumen seperti Indeks Risiko Iklim Desa tidak boleh berhenti sebagai laporan tahunan, tetapi harus menjadi dasar dalam menentukan arah penggunaan anggaran desa.
Menurut dia, penguatan respons dana desa terhadap isu iklim juga menjadi bagian dari reformasi kebijakan dalam skema Climate Policy Based Financing yang melibatkan Bappenas sebagai executing agency dan Asian Infrastructure Investment Bank sebagai mitra pembiayaan.
Baca juga: Kemendes: Fokus dana desa 2026 atasi kemiskinan–desa tangguh iklim
Ia menjelaskan salah satu agenda reformasi yang tengah disusun adalah strategi nasional untuk desa berketahanan iklim.
Menurutnya, pengarusutamaan isu iklim dalam dana desa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan desa di tengah tren peningkatan bencana akibat perubahan iklim.
Sebelumnya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mengupayakan peningkatan literasi masyarakat desa agar mampu menghadapi perubahan iklim atau membangun Desa Tangguh Iklim.
"Faktanya memang betul, kami akui, literasi tentang ketangguhan terhadap perubahan iklim di desa hari ini masih rendah. Maka, kita akan cari cara, sistem yang konstruktif untuk memastikan desa-desa itu paham, mau, dan sebagai pelaku utama dalam mengawal, menghadapi perubahan iklim," ucap dia.
Baca juga: Kemendes: Desa garda terdepan hadapi dampak perubahan iklim
Mendes Yandri berharap peningkatan literasi itu dapat menjadikan desa sebagai pelaku utama dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim pada saat ini telah menuntut masyarakat untuk menjadi tangguh, terutama mereka yang berada di desa.
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































