Kota Bogor, Jawa Barat (ANTARA) - Pemimpin atau wakil rakyat yang "raib" ketika didemonstrasi warganya, dengan beragam alasan, lumrah terjadi di negeri ini.
Pun demikian dengan Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. Berkali-kali memakai alasan "ada acara lain" untuk menolak kedatangan warga ke kantornya yang ingin menyampaikan aspirasi.
Terakhir, saat disatroni ratusan pengemudi angkutan kota (angkot) di Balai Kota, yang pada 22 Januari 2026, bak jadi terminal bayangan. Mereka memprotes kebijakan Pemkot yang melarang angkot 20 tahun ke atas untuk beroperasi. Dedie tak ada di kandangnya.
Namun komunitas Bogor Leumpunk Club's (BLC), kelompok jalan kaki (leumpunk, plesetan dari leumpang kata asli dari Bahasa Sunda yang berarti berjalan kaki) punya cara tersendiri untuk menyampaikan uneg-uneg kepada pemimpin kota.
Komunitas yang memiliki jargon "Sehat, Berguna, atau Mati" itu baru setahun berdiri dan per tulisan ini dibuat baru menggelar sepuluh kali kegiatan (sesi #10) menyusuri kondisi jalan dan situasi kota sembari mereka berjalan kaki beramai-ramai, telah menarik perhatian.
Meskipun baru, mereka seolah mengajarkan kepada publik bagaimana cara bisa diterima oleh pejabat teras kota dan bisa menyampaikan aspirasi dari apa yang mereka rasakan atas kondisi kota.
Untuk bisa bertemu Wali Kota Bogor, perjalanan mereka ternyata juga tak langsung mulus.
Terdokumentasi dari video dalam akun Instagram Arnaldo Wenas, salah seorang pegiat BLC, bahwa mereka pernah merangsek ke Balai Kota pada 1 Februari 2026. Mereka bergerombol dan silih berganti menyampaikan orasi di halaman Balai Kota.
Ketika itu ratusan pegiat BLC mendatangi Balai Kota untuk mengajukan tuntutan, yakni, meminta Pemkot Bogor menyediakan fasilitas pejalan kaki yang layak, memperbaiki fasilitas publik yang rusak atau jelek tidak layak, membersihkan trotoar dari pengguna yang tidak semestinya - tetapi tidak asal menggusur pedagang kaki lima, melainkan harus berdasarkan riset, tak asal-asalan membuatnya. Mereka juga mendesak Pemkot untuk tidak antikritik.
Mereka diterima oleh Sekretaris Kota Denny Mulyadi di halaman Balai Kota. Dalam pertemuan yang terlihat akrab, mereka duduk-duduk lesehan di halaman Balai Kota. BLC menyampaikan aspirasi tertulis kepada Denny. Mereka juga menyentil jargon Pemkot Bogor yakni "Bogor Beres" tetapi menurut mereka kondisi Kota Bogor tidak beres-beres.
Dari pertemuan itu, Pemkot justru meminta bantuan BLC untuk turut berpartisipasi dalam memperbaiki Kota Bogor.
Entah apa yang dilaporkan Denny kepada Dedie. Hal itu membuat Dedie bersedia menerima BLC, bahkan lengkap bersama Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, termasuk Denny hadir lagi, dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)
Titik kumpul
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































