Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) sebagai struktur tanggul laut berbasis blok modular beton yang ramping dan hemat material untuk mengatasi abrasi, banjir rob, hingga kenaikan muka air laut.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN Dinar Catur Istiyanto mengatakan pengembangan TTMF berangkat dari kebutuhan akan alternatif desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur, tetapi tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
"Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Berbeda dengan tanggul konvensional yang melebar hingga ratusan meter ke arah laut, Dinar menjelaskan TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak (vertical seawall) berbahan beton bertulang.
Struktur ini menggunakan sistem blok modular (caisson) yang disusun seperti kepingan lego agar lebih fleksibel dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi, yang dipilih agar sesuai dengan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri.
"Blok-blok beton ini diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi. Dengan cara ini, konstruksi bisa berlangsung lebih cepat," ujarnya.
Dinar menerangkan keunggulan utama desain ini adalah efisiensi ruang. Lebar tanggul dapat disesuaikan dengan kebutuhan fungsi di atasnya, misalnya hanya 10–20 meter jika dirancang sebagai pendukung jalan raya.
Hal ini membuat TTMF sangat relevan diterapkan di kawasan pesisir dengan keterbatasan lahan, seperti pantai utara Jawa.
Sesuai namanya, kata Dinar, TTMF tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari serangan gelombang dan tanggul waduk kedap air, tetapi juga dirancang untuk mengemban fungsi tambahan.
Salah satu inovasi penting dalam desain ini adalah integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column (OWC) yang bisa memutar turbin dan menghasilkan listrik.
"Prinsipnya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam, kini bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik," ungkap dia.
Dinar juga memaparkan bagian atas tanggul dirancang cukup kuat untuk menopang infrastruktur jalan raya, sehingga satu struktur dapat menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan energi terbarukan sekaligus.
Dari sisi material, TTMF dirancang menggunakan beton bertulang yang mengacu pada standar SNI dengan memanfaatkan limbah industri, seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batubara.
Ke depan, BRIN berharap riset TTMF dapat terhubung lebih erat dengan proyek-proyek strategis nasional.
Baca juga: BRIN kembangkan antena untuk teknologi jaringan komunikasi 6G
Baca juga: BRIN pelajari kasus pencemaran Sungai Cisadane
Baca juga: AHY: Penanganan banjir Pantura tak sekadar dengan beton
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































