Kecepatan penanganan pneumonia jadi faktor penentu kesembuhan

2 months ago 32

Jakarta (ANTARA) - Ketua UKK Respirologi IDAI Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp(K) mengatakan kecepatan penanganan pneumonia pada anak menjadi faktor penentu kesembuhan dan mencegah risiko kematian.

Nastiti menjelaskan faktor kecepatan penanganan pneumonia seringkali terhambat karena akses ke fasilitas kesehatan yang jauh sehingga tidak bisa cepat sampai di rumah sakit, dan keterbatasan alat kesehatan untuk membantu pertolongan pertama seperti oksigen.

“Memang faktor kecepatan pertolongan itu sangat mempengaruhi, teman-teman di daerah mohon maaf yang mungkin akses kesehatannya agak lama, menempuh jarak yang cukup jauh ke rumah sakit, keterbatasan oksigen, obat dan yang lain itu bisa menyebabkan angka kematian pada pneumonia tidak turun-turun,” kata Nastiti dalam diskusi kesehatan yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Nastiti mengatakan setiap 43 detik anak meninggal karena pneumonia yang disebabkan berbagai jenis bakteri maupun virus. Bakteri yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah streptococcus pneumonia atau pneumococcus, yang lainnya dari virus seperti hemovirus influenza, pertusis, klebsiella, RSV, rinovirus dan parainfluenza.

Apa yang terjadi di negara berkembang, kematian anak akibat pneumonia disebabkan karena keterlambatan di bawa ke rumah sakit yang disebabkan banyak faktor dan ketidaktahuan orang tua untuk mengenali gejala dan tanda bahaya pneumonia.

Baca juga: Vaksinasi yang perlu dilengkapi untuk mencegah pneumonia

Pneumonia diawali dengan gejala seperti selesma atau common cold infeksi saluran pernapasan atas, dengan batuk pilek, dan demam. Namun gejala bisa berkembang menjadi pneumonia jika napas anak sudah terlihat cepat, sesak napas, lesu, lemah sampai kesadarannya menurun.

“Dan kalau dicermati pernapasannya itu di bagian dadanya ada tarikan dinding dada ke dalam yang menandakan anak itu sedang meningkatkan usaha nafas untuk mengatasi kekurangan oksigen yang ada di dalam tubuh. Kalau sampai berat, bisa sampai biru kemudian kejang dan penurunan kesadaran,” katanya.

Nastiti mengatakan pengetahuan untuk mengenali tanda awal pneumonia harus diketahui mulai dari posyandu, tenaga kesehatan di Puskesmas hingga kader, dengan cara menghitung napas anak selama satu menit tidak boleh lebih dari 60 kali per menit pada usia kurang dari 2 bulan.

Pada anak dua bulan sampai satu tahun frekuensi pernapasan tidak boleh 50 kali per menit dan diatas satu tahun batasannya 40 kali per menit. Dan saturasi oksigen juga perlu diperhatikan tidak di bawah 95 persen.

Kematian pada anak karena pneumonia juga bisa disebabkan karena gizi buruk dan malnutrisi berat. Maka itu penting pemberian ASI eksklusif untuk menambah antibodi pada bayi dan menurunkan risiko pneumonia.

Baca juga: Pneumonia semasa bayi dapat berpengaruh pada kesehatan jangka panjang

Baca juga: Ini infeksi pada bayi yang disebabkan oleh virus RSV

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |