Sikapi outlook Moody's, BNI jaga bisnis tetap prudent & berkelanjutan

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menyatakan bahwa perseroan terus berfokus pada pengelolaan bisnis yang hati-hati (prudent) dan berkelanjutan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko, merespons perubahan outlook dari Moody’s.

“Strategi penyaluran kredit tetap dijalankan secara selektif dan terukur, dengan mengedepankan kualitas dan prinsip kehati-hatian,” kata Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Selain itu, perseroan juga terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan pasar.

Okki menjelaskan bahwa perubahan outlook Moody’s sejalan dengan penyesuaian outlook sovereign Pemerintah Indonesia dan tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI.

“Posisi perseroan saat ini masih di level investment grade, hal ini tercermin dari posisi kinerja perseroan akhir tahun 2025,” kata dia.

Hingga akhir tahun buku 2025, Okki memastikan fundamental BNI tetap terjaga dengan baik. Indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level yang sehat dan sesuai dengan ketentuan regulator, dengan struktur pendanaan yang dikelola secara prudent.

Berdasarkan catatan perseroan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI tercatat sebesar 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator.

Sementara itu, kualitas aset menunjukkan perbaikan dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto sebesar 1,9 persen dan loan at risk (LaR) 8,5 persen.

Di sisi lain, rasio pencadangan NPL mencapai 205,5 persen dan rasio pencadangan LaR mencapai 46,9 persen yang menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

Dari sisi operasional, BNI pada kuartal IV 2025 mencatat Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun.

Secara kumulatif, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat Rp40,3 triliun dengan loan yield (pendapatan dari pinjaman) yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan. Sedangkan pendapatan nonbunga tumbuh 5,2 persen (yoy) menjadi Rp24,6 triliun.

Lembaga pemeringkat Moody’s pada Kamis (5/2) mengumumkan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.

Sejalan dengan langkah tersebut, Moody’s juga merevisi outlook lima bank di Indonesia menjadi negatif, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat utama kelima bank, termasuk peringkat penerbit (issuer ratings), peringkat simpanan (deposit ratings), peringkat utang senior tanpa jaminan (senior unsecured ratings), serta sejumlah indikator risiko dan profil kredit lainnya.

Sebelumnya pada Selasa (10/2), Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae meyakini tidak ada dampak signifikan terhadap stabilitas industri perbankan nasional setelah Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Indonesia menjadi negatif dan menurunkan outlook lima bank.

Dian juga tidak khawatir atas perubahan outlook Moody’s ini mengingat tidak ada isu yang bersifat struktural. Menurutnya, bank-bank di Indonesia, termasuk lima bank dalam outlook Moody’s, secara fundamental tetap sehat.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan memberikan penjelasan lengkap terkait proyeksi ekonomi Indonesia pada Jumat (13/2), untuk menanggapi outlook negatif yang diberikan lembaga pemeringkat Moody's.

Airlangga mengatakan Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran pemerintah menyiapkan penjelasan yang lebih komprehensif kepada publik dan pelaku ekonomi melalui forum Indonesia Economic Outlook.

Baca juga: Portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI pada 2025 tembus Rp197 triliun

Baca juga: BNI peroleh laba Rp20 triliun pada 2025, kredit tumbuh 15,9 persen

Baca juga: BNI beri apresiasi ke Agen46 atas kontribusi ke inklusi keuangan

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |