Istanbul (ANTARA) - Para pemimpin Eropa pada Sabtu menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, ketika Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan rencana misi multinasional yang dipimpin Inggris-Prancis untuk melindungi pelayaran maritim.
Berbicara usai konferensi video yang mempertemukan 49 negara, bersama Uni Eropa dan International Maritime Organization (IMO), Starmer mengatakan para peserta sepakat mempercepat perencanaan militer untuk mengamankan jalur perairan strategis tersebut.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa, bersama Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi sesegera mungkin ketika kondisi memungkinkan,” kata Starmer, yang menggambarkan operasi itu sebagai murni damai dan defensif.
Ia menambahkan bahwa misi tersebut bertujuan memberikan rasa aman bagi pelayaran komersial dan mendukung upaya pembersihan ranjau. Dirinya turut mengundang negara-negara yang memiliki kepentingan dalam perdagangan global untuk berkontribusi.
Lebih dari 12 negara telah mengisyaratkan kesiapan untuk menyediakan aset, katanya, dengan konferensi perencanaan dijadwalkan berlangsung di London pekan depan.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pertemuan itu bertujuan memastikan pembukaan kembali jalur perairan tersebut di tengah ketegangan kawasan,
Macron juga memperingatkan bahwa gangguan telah menimbulkan konsekuensi sangat parah bagi pasar global, termasuk pasokan minyak, gas, dan pupuk.
Ia pun menyambut pengumuman gencatan senjata yang “menggembirakan” yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Lebanon, tetapi menegaskan perlunya solusi yang berkelanjutan.
“Kita semua menuntut pembukaan penuh, segera, dan tanpa syarat Selat Hormuz,” ujarnya, sermbari menambahkan bahwa negara-negara menolak segala pembatasan atau upaya untuk memberlakukan sistem tarif maupun memprivatisasi selat tersebut.
Iran pada Jumat menyatakan Selat Hormuz kini sepenuhnya terbuka bagi kapal komersial, sejalan dengan gencatan senjata 10 hari di Lebanon yang mulai berlaku pada tengah malam Kamis, tetapi melalui rute yang telah ditentukan.
Teheran sebelumnya memblokir jalur utama pengiriman minyak tersebut setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari.
Gencatan senjata antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada 22 April, sementara pembicaraan menuju perdamaian jangka panjang diperkirakan segera berlangsung di Islamabad.
Sumber: Anadolu
Baca juga: IRGC: Selat Hormuz di bawah kendali ketat militer Iran
Baca juga: AS-Iran dijadwalkan lanjutkan putaran kedua perundingan di Islamabad
Baca juga: Iran buka Selat Hormuz selama gencatan senjata 10 hari
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































