Farhan komitmen perkuat Bandung jadi pusat literasi nasional

1 week ago 14

Kota Bandung (ANTARA) - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan komitmen memperkuat Kota Bandung sebagai pusat pengembangan literasi nasional karena ditopang banyak perguruan tinggi ternama dengan kualitas yang diakui secara nasional.

“Kota Bandung itu harus jadi kota tempat pengembangan literasi. Karena di kota ini berdiri banyak sekali lembaga pendidikan tinggi, dan rata-rata terbaik se-Indonesia. Artinya, kita sudah punya modal ekosistem yang sangat jadi, tinggal memastikan ekosistem ini tidak terbuang percuma,” ujarnya dalam forum BFC Talks di Perpustakaan Ajip Rosidi Kota Bandung di Bandung, Jumat.

Ia menilai forum diskusi literasi bersama para pemangku kepentingan, termasuk Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya, menjadi ruang penting menghidupkan kembali gagasan serta usulan penguatan literasi, khususnya pemanfaatan buku di tengah masyarakat.

Ia menekankan bahwa buku tidak boleh lagi dipandang semata sebagai sumber pengetahuan, melainkan memiliki fungsi sosial yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.

“Hal yang kita cari sekarang adalah pembuktian bahwa buku itu punya fungsi sosial. Bukan hanya sekadar orang mencari tahu sesuatu, tapi buku juga bisa memberi dampak langsung,” katanya.

Baca juga: Kemendikdasmen ajak semua pihak perkuat gerakan literasi nasional

Menurut dia, konsep tersebut selama ini lazim diterapkan di wilayah bencana dan relevan untuk diterapkan di Kota Bandung yang memiliki tingkat stres masyarakat cukup tinggi.

Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menyoroti kondisi literasi nasional yang dinilainya berada dalam situasi darurat meskipun tingkat melek huruf masyarakat Indonesia tergolong tinggi.

“Ini hak inisiatif pribadi saya untuk merevisi undang-undang sistem perbukuan. Basisnya tentu objektif. Angka melek huruf kita tinggi, 98 persen untuk huruf dan di atas 92 persen untuk angka. Tapi kalau bicara literasi, kondisinya sangat darurat,” kata dia.

Ia mengatakan literasi tidak berhenti pada kemampuan mengenal huruf dan angka, melainkan mencakup kemampuan mencerna informasi, membangun ekosistem perbukuan yang sehat, serta menumbuhkan daya pikir kritis masyarakat.

“Yang paling tinggi dari literasi itu adalah berpikir kritis dan di situlah problem kita sekarang. Kita bisa lihat sendiri toko-toko buku banyak yang gulung tikar,” ujarnya.

Baca juga: Rutan Baturaja terima bantuan 100 buku dari Perpusnas RI

Baca juga: Naskah Nusantara perlu diarusutamakan agar tidak tersisihkan

Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |