GEM dorong hilirisasi nikel guna perkuat posisi RI di pasar global

1 hour ago 3
Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90 persen

Jakarta (ANTARA) - GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak perusahaannya PT QMB New Energy Materials mendorong hilirisasi nikel untuk memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) global.

“Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90 persen,” ujar Chairman and Founder GEM Group Prof. Xu Kai Hua dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Pengembangan teknologi ini diiringi pembangunan fasilitas terintegrasi dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, yang menjadi komponen penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Langkah ini diyakini sebagai strategi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri hilir nikel dan menandai pergeseran dari pemasok bahan mentah menjadi bagian strategis dalam rantai pasok energi baru global.

Dari sisi kinerja industri, pada periode 2024–2025, kawasan industri GEM Group di Morowali mencatat nilai ekspor sekitar 2,5 miliar dolar AS, kontribusi pajak sebesar 400 juta dolar AS, serta menciptakan lebih dari 10 ribu lapangan kerja.

Angka ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berdampak pada struktur industri, tetapi juga pada kontribusi ekonomi secara langsung.

Di sisi lain, pengembangan ekosistem inovasi turut menjadi bagian dari strategi industri. GEM membangun fasilitas riset bersama di Institut Teknologi Bandung dengan nilai investasi sekitar 30 juta dolar AS.

Laboratorium ini dilengkapi lebih dari 300 perangkat dan mencakup berbagai tahapan riset, mulai dari proses metalurgi hingga evaluasi material baterai.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara riset dan industri, sekaligus mempercepat pengembangan teknologi pengolahan nikel di dalam negeri.

Dalam jangka panjang, sinergi ini menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi eksternal dan memperkuat basis inovasi nasional.

Baca juga: Danantara dan GEM teken perjanjian proyek nikel senilai Rp23 triliun

Baca juga: Bahlil buka peluang relaksasi kuota produksi batu bara dan nikel

Baca juga: Vale bidik smelter nikel HPAL Pomalaa beroperasi pada Q3 2026

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |