Ekonom sebut kredit bank masih berpotensi tumbuh sesuai target BI

2 hours ago 3
Secara prospek, pertumbuhan kredit masih berpeluang berada dalam kisaran target Bank Indonesia di level 8-12 persen

Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan kredit perbankan berpotensi untuk tumbuh sesuai dengan target Bank Indonesia (BI), meskipun cenderung berkisar di batas bawah.

“Secara prospek, pertumbuhan kredit masih berpeluang berada dalam kisaran target Bank Indonesia di level 8-12 persen, tetapi dengan kecenderungan berada di batas bawah,” kata M Rizal Taufikurahman saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.

Ia menyampaikan momentum musiman selama Ramadan dan Lebaran, akselerasi belanja pemerintah, serta dukungan kebijakan likuiditas makroprudensial diharapkan dapat memberi dorongan jangka pendek bagi pertumbuhan kredit.

Namun, tanpa pemulihan yang lebih kuat di sektor riil, khususnya melalui investasi, dorongan terhadap pertumbuhan kredit akan terbatas.

“Artinya, target mungkin tercapai secara agregat, tetapi belum mencerminkan penguatan intermediasi yang berkualitas,” ujarnya.

Rizal menuturkan tantangan utama bagi sektor perbankan saat ini adalah adanya kesenjangan antara likuiditas yang cukup longgar dengan permintaan kredit yang masih lemah, di tengah peningkatan risiko kredit dan tekanan terhadap margin.

Selain itu, ia menyoroti penyaluran kredit yang masih terkonsentrasi pada sektor tertentu, sehingga belum menciptakan basis pertumbuhan yang luas.

Menurut data Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (27/3), penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh 8,9 persen year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan pada Januari 2026 yang sebesar 10,2 persen yoy.

Rizal mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan lemahnya transmisi antara likuiditas dan permintaan riil.

Ia menjelaskan, dari sisi permintaan, para pelaku usaha masih cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global dan tingginya cost of capital (biaya modal), sehingga ekspansi investasi dan kebutuhan modal kerja tertahan.

Ia menyatakan, rumah tangga juga belum cukup kuat menopang permintaan kredit, tercermin dari kecenderungan konsumsi yang lebih hati-hati.

Sementara dari sisi supply, perbankan memperketat seleksi penyaluran karena meningkatnya risiko, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap tekanan perekonomian global, sehingga meskipun likuiditas relatif cukup, keinginan untuk melakukan ekspansi kredit belum sepenuhnya pulih.

Ia pun menekankan pentingnya untuk memastikan likuiditas yang ada benar-benar berdampak ke sektor riil dan mendorong aktivitas ekonomi, bukan hanya tertahan di instrumen keuangan.

“Dengan demikian, perbankan perlu memperkuat kualitas intermediasi dengan memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang lebih resilient (tangguh), meningkatkan efisiensi agar pricing kredit lebih kompetitif, dan menjaga kualitas aset,” ucap Rizal.

Senada dengan M Rizal Taufikurahman, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyatakan kepada ANTARA bahwa penyaluran kredit ke depannya masih terbatas karena ketidakpastian global dan domestik yang masih tinggi.

Selain itu, perlambatan penyaluran kredit tersebut juga disebabkan karena sejumlah periode libur panjang pada triwulan I tahun ini.

“Di Februari mulai memasuki periode banyak libur sehingga hari kerja juga mulai berkurang. Kemudian, di Februari keluar warning (peringatan) MSCI serta berbagai lembaga rating (pemeringkat) yang membuat ketidakpastian meningkat,” imbuh Teuku Riefky.

Baca juga: CORE: Tambahan SAL Rp100 triliun jaga stabilitas sistem keuangan

Baca juga: Gubernur BI: Kredit perbankan tumbuh 9,37 persen pada Februari 2026

Baca juga: Survei OJK: Kinerja bank diyakini tetap solid sepanjang TW-I 2026

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |