Jakarta (ANTARA) – Transformasi ekonomi menjadi salah satu agenda utama pembangunan nasional pada tahun 2026. Sejalan dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026, “Kedaulatan Pangan dan Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif”, pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi melalui hilirisasi industri, peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan ekonomi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional. Transformasi juga diarahkan agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi, memiliki struktur industri yang lebih kuat, serta mampu meningkatkan daya saing di tengah dinamika ekonomi global.
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Solid
Kinerja perekonomian nasional menunjukkan tren positif dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5,03 persen pada 2024 menjadi 5,11 persen pada 2025.
Momentum tersebut berlanjut pada semester I 2026 dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pendapatan Nasional Bruto per-kapita juga meningkat 4,07 persen, dari US$4.920 pada 2024 menjadi US$5.120 pada 2025. Capaian tersebut mempertahankan posisi Indonesia sebagai Negara Berpendapatan Menengah Atas.
Pertumbuhan ekonomi turut didukung sektor industri pengolahan. Pada semester I 2026, sektor tersebut tumbuh 4,78 persen secara tahunan, antara lain didorong percepatan program hilirisasi sumber daya alam, penguatan struktur industri, dan peningkatan investasi pada sektor-sektor industri prioritas.
Kinerja tersebut menjadi sinyal positif bagi pergeseran struktur ekonomi menuju sektor-sektor bernilai tambah tinggi.
Investasi dan Hilirisasi Terus Diperkuat
Penguatan struktur ekonomi juga tercermin dari realisasi investasi. Sepanjang 2025, investasi mencapai Rp1.931,2 triliun atau meningkat 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi tersebut juga berhasil menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja.
Sementara itu, pada semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penanaman Modal Asing (PMA) memberikan kontribusi 50,2 persen terhadap realisasi investasi semester I 2026 dan tumbuh 17,5 persen secara tahunan.
Salah satu penggerak investasi adalah agenda hilirisasi. Pada semester I 2026, realisasi investasi pada 15 komoditas prioritas hilirisasi RPJMN 2025–2029 mencapai Rp273,47 triliun atau 27,06 persen dari total realisasi investasi nasional.
Pemerintah juga melanjutkan percepatan proyek hilirisasi. Pada April 2026, dilakukan groundbreaking tahap II terhadap 13 proyek hilirisasi dengan nilai investasi sekitar Rp116 triliun. Proyek tersebut mencakup lima proyek sektor energi, lima proyek mineral, dan tiga proyek perkebunan.
Hilirisasi menjadi salah satu strategi penting untuk memperbesar nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional.
“Dalam menavigasi dinamika pembangunan, Kementerian PPN/Bappenas memegang peran sentral untuk menerjemahkan visi jangka panjang Indonesia Emas 2045 dan agenda Asta Cita ke dalam Prioritas Nasional. Menjawab tantangan efisiensi dan kedaulatan, RKP 2026 difokuskan pada tema ‘Kedaulatan Pangan dan Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif’,” urai Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.
Penguatan Ekonomi Tidak Hanya Berlangsung di Pusat Pertumbuhan
Transformasi ekonomi juga diperluas hingga tingkat desa dan kelurahan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Hingga 5 Agustus 2026, sebanyak 83.382 KDKMP telah berbadan hukum. Dari 38.109 titik yang diajukan untuk pembangunan gerai fisik, sebanyak 19.623 gudang dan gerai telah selesai dibangun.
Pemerintah juga merekrut 30.000 manajer KDKMP melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk memperkuat kapasitas pengelolaan koperasi.
Penguatan ekonomi di tingkat lokal diharapkan menciptakan ekosistem usaha yang lebih kuat sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi produktif.
Selain koperasi, pembangunan perumahan juga menjadi bagian dari penguatan kesejahteraan sekaligus aktivitas ekonomi. Pada 2025, akses rumah tangga terhadap hunian layak mencapai 68,40 persen. Pembangunan dan peningkatan kualitas rumah mencapai 850.786 unit pada 2025 dan 380.787 unit pada semester I 2026.
Lapangan Kerja Mengikuti Ekspansi Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi juga diikuti peningkatan jumlah penduduk yang masuk dan terserap dalam pasar kerja.
Jumlah angkatan kerja meningkat 1,22 persen, dari 153,05 juta orang pada 2025 menjadi 154,91 juta orang pada 2026. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja meningkat 1,30 persen dari 145,77 juta menjadi 147,67 juta orang.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,76 persen menjadi 4,68 persen pada Februari 2026.
Rata-rata upah pekerja juga meningkat 6 persen, dari Rp3,09 juta per bulan pada 2025 menjadi Rp3,29 juta per bulan pada 2026.
Pemerintah pada saat yang sama memperkuat kompetensi tenaga kerja. Melalui balai dan pusat pelatihan kerja, pada semester I 2026 telah dihasilkan 38.009 lulusan, dengan 20.916 di antaranya memperoleh sertifikasi kompetensi.
Upaya memperluas kesempatan berusaha turut dilakukan melalui Bantuan Tenaga Kerja Mandiri (TKM). Pada semester I 2026, program tersebut menjangkau 7.034 wirausaha pemula, 1.777 penerima TKM Tematik Kemiskinan Ekstrem, serta 1.000 penerima TKM Lanjutan.
Menyiapkan Ekonomi Masa Depan
Transformasi ekonomi juga diarahkan pada sektor-sektor strategis yang diproyeksikan menjadi bagian penting dari perekonomian masa depan.
Danantara memperkuat kerja sama investasi strategis melalui pengembangan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau Waste-to-Energy (WtE) di lebih dari 30 kabupaten/kota.
Pengembangan ekosistem semikonduktor juga mulai diarahkan melalui program pengembangan talenta bagi 1.000 insinyur dari 15.000 tenaga ahli.
Selain itu, penguatan ekosistem haji dan umrah dilakukan melalui akuisisi multi-aset di Makkah serta rencana pembangunan hotel, masjid, dan kawasan komersial di kawasan Thakher.
“Lampiran Pidato ini berfungsi sebagai jembatan antara perencanaan pembangunan dan bentuk akuntabilitas pemerintah kepada publik. Ke depan, penajaman tata kelola akan difokuskan pada keberlanjutan investasi strategis dan efisiensi ekosistem pendukung,” tegas Rachmat.
Transformasi ekonomi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan 2026 tidak hanya berorientasi pada pencapaian pertumbuhan jangka pendek. Penguatan industri, investasi, hilirisasi, kualitas tenaga kerja, ekonomi desa, serta sektor-sektor masa depan diarahkan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih produktif dan berdaya saing.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester I 2026 menjadi bagian dari proses yang lebih besar, yakni membangun struktur ekonomi nasional yang semakin mandiri, inklusif, dan mampu menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































