Changsa (ANTARA) - Sebuah tim dari Dewan Negara China akan dibentuk untuk menyelidiki secara menyeluruh penyebab ledakan di pabrik kembang api di Provinsi Hunan, China tengah, serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Insiden ledakan tersebut, yang terjadi sekitar pukul 16.43 pada Senin (4/5) di sebuah pabrik kembang api di Liuyang, sebuah kota setingkat wilayah di bawah administrasi Changsha, ibu kota Provinsi Hunan, menewaskan 26 orang dan melukai 61 lainnya.
Zhang Guoqing, wakil perdana menteri China, tiba di Liuyang pada Selasa (5/5) untuk memandu upaya penyelamatan dan tanggap darurat.
Setibanya di lokasi, Zhang segera menuju lokasi ledakan dan rumah sakit setempat serta mempelajari secara rinci proses pencarian orang hilang dan perawatan korban luka. Dia kemudian mengadakan rapat di pusat komando lapangan mengenai peningkatan lebih lanjut upaya penyelamatan dan perawatan medis, penanganan dampak lanjutan, serta penyelidikan kecelakaan.
Otoritas di Hunan dan daerah lain serta departemen terkait harus mengambil pelajaran mendalam dari kecelakaan ini dan secara serius mengidentifikasi serta memperbaiki risiko dan potensi bahaya di industri dan sektor utama guna memastikan keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat, kata Zhang.
Dia menuntut upaya maksimal untuk mencari korban hilang, dengan menekankan pengerahan tim profesional untuk melakukan pencarian dan penyelamatan secara ilmiah serta mencegah korban tambahan.
Tenaga medis dan sumber daya tingkat tinggi harus dimobilisasi untuk memberikan perawatan maksimal kepada korban luka, sementara keluarga korban meninggal harus diberi penghiburan dan penanganan pascakejadian dilakukan dengan kesabaran serta ketelitian, ujarnya.
Zhang juga menyerukan peningkatan upaya untuk menindak kegiatan ilegal dan tidak sesuai aturan di industri kembang api dan bahan kimia berbahaya, serta mencegah terjadinya kecelakaan besar dan serius.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































