Jakarta (ANTARA) - Di tengah lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi, selat-selat strategis kembali menjadi episentrum kalkulasi kekuatan global.
Jalur sempit seperti Selat Malaka dan Selat Hormuz tidak lagi sekadar penghubung laut, melainkan simpul vital yang menentukan stabilitas energi, perdagangan, dan keamanan internasional.
Lebih dari sepertiga perdagangan dunia dan sekitar 20 persen distribusi minyak global melintasi titik-titik ini. Angka tersebut menjelaskan satu hal yaitu siapa yang mengendalikan selat, memiliki leverage terhadap sistem ekonomi global.
Namun, bentuk pengendalian yang berkembang hari ini tidak selalu berupa aneksasi teritorial konvensional. Tidak ada deklarasi resmi, tidak ada pengibaran bendera. Yang muncul adalah apa yang dapat disebut sebagai aneksasi fungsional yaitu penguasaan melalui regulasi, keamanan, dan terutama instrumen ekonomi.
Negara atau aktor yang mampu mengendalikan infrastruktur pelabuhan, sistem logistik, serta mekanisme keamanan di sekitar selat, pada dasarnya telah memegang kendali de facto atas arus yang melintasinya.
Kasus Selat Hormuz memberikan ilustrasi paling gamblang tentang bagaimana selat menjadi alat tawar geopolitik. Selat ini merupakan jalur utama ekspor minyak dari Teluk Persia menuju pasar global.
Dalam berbagai periode ketegangan —terutama antara Iran dan negara-negara Barat— ancaman penutupan atau gangguan terhadap Selat Hormuz secara langsung memicu gejolak dan volatilitas harga minyak dunia, sekaligus mengguncang stabilitas ekonomi global
Bahkan tanpa benar-benar menutup selat, kemampuan Iran untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker sudah cukup menciptakan efek psikologis dan ekonomi global. Ini adalah bentuk kontrol non-teritorial dimana kekuatan untuk memengaruhi tanpa harus memiliki secara formal.
Baca juga: Navigasi strategis Indonesia di balik perang narasi AS-Israel dan Iran
Baca juga: Menkeu Purbaya tegaskan tak berencana pajaki Selat Malaka
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































