Jakarta (ANTARA) - Lembaga kajian ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menekankan pentingnya pengembangan kawasan industri tematik untuk mendorong investasi sekaligus mempercepat program hilirisasi di Indonesia.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira dihubungi di Jakarta, Kamis menilai pendekatan tematik memungkinkan terbentuknya ekosistem industri yang lebih sesuai dengan kebutuhan sektor tertentu.
Menurut Bhima, investasi di bidang hilirisasi membutuhkan dukungan ekosistem yang spesifik, karena kawasan industri tematik berbeda dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang umumnya bersifat multi industri, sehingga berbagai jenis industri dengan kebutuhan infrastruktur berbeda berada dalam satu kawasan.
"Penetapan kawasan industri tematik cukup krusial karena investasi di bidang hilirisasi butuh ekosistem yang spesifik. Berbeda dengan KEK yang konsepnya multi industri, di mana berbagai jenis industri dengan kebutuhan infrastruktur berbeda jadi satu," ucapnya.
Ia menjelaskan, kawasan industri tematik memungkinkan penyediaan infrastruktur yang lebih terintegrasi, mulai dari pasokan energi, sistem pengolahan limbah, hingga jalur logistik yang disesuaikan dengan karakter sektor industri.
Sebagai contoh, kawasan pengolahan hasil perikanan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan kawasan smelter nikel.
Bhima menambahkan, pemerintah perlu memastikan sejumlah faktor kunci sebelum menetapkan lokasi kawasan industri tematik. Salah satunya adalah memastikan daya dukung dan daya tampung lingkungan agar pengembangan industri tetap berkelanjutan.
Selain itu, kawasan industri tematik juga harus berada dekat dengan sumber bahan baku utama. Untuk hilirisasi perikanan, misalnya, kawasan perlu memiliki akses dekat ke sumber ikan tangkap maupun budidaya, serta didukung fasilitas cold storage yang memadai.
Ketersediaan energi terbarukan juga menjadi perhatian penting. Bhima menilai, saat ini sudah banyak investor yang menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG), sehingga membutuhkan pasokan energi bersih di kawasan industri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kawasan industri di Indonesia berhasil menarik investasi hingga Rp6.744,5 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 2,35 juta orang dalam lima tahun terakhir.
Hingga saat ini tercatat sebanyak 175 kawasan industri telah mengantongi Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI), dengan total luas mencapai 98.235,5 hektare dan tingkat okupansi sebesar 58,19 persen.
Adapun perusahaan yang mengisi kawasan industri di Tanah Air secara total sebanyak 11.970 tenant. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan lima tahun lalu, dengan penambahan 57 kawasan industri atau tumbuh sekitar 48,3 persen.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto memamerkan 18 proyek hilirisasi yang tengah dibangun pemerintah, sebagai bagian dari percepatan transformasi ekonomi nasional, kepada para pebisnis Amerika Serikat.
Dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2) sore waktu setempat, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia bergerak cepat memperkuat industri pengolahan di dalam negeri agar tidak bergantung lagi pada ekspor bahan mentah.
"Kami baru saja memulai 18 proyek hilirisasi tahun ini," kata Prabowo.
Menurut Presiden, proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari strategi besar dalam mendorong nilai tambah sumber daya alam, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan memperkuat struktur industri nasional.
Baca juga: HKI dorong penguatan deregulasi untuk pacu investasi kawasan industri
Baca juga: Menteri PU dukung konektivitas kawasan industri prioritas di Sidoarjo
Baca juga: HKI dan SMF perkuat kolaborasi kawasan industri RI–Singapura
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































