KAI bersama para pemangku kepentingan telah menutup 1.329 perlintasan liar dalam lima tahun terakhir dan akan terus memperkuat peningkatan keselamatan pada 1.810 perlintasan sebidang
Jakarta (ANTARA) - Ada beberapa detik yang sering terasa singkat di jalan, tetapi memiliki arti besar bagi keselamatan banyak orang. Salah satunya saat melintas di perlintasan sebidang.
Berhenti sejenak, tengok kanan dan kiri, memastikan jalur aman, lalu melanjutkan perjalanan setelah kereta api melintas menjadi kebiasaan sederhana yang membantu menjaga keselamatan bersama.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa keselamatan di perlintasan sebidang membutuhkan kepedulian seluruh pengguna jalan untuk saling menjaga perjalanan satu sama lain.
“Perlintasan sebidang mempertemukan perjalanan banyak orang dalam waktu bersamaan. Saat pengguna jalan mau berhenti sejenak, melihat kondisi sekitar, dan melintas dengan tertib, di situ keselamatan dijaga bersama,” ujar Anne.
Sejak 2021 hingga April 2026, KAI bersama para pemangku kepentingan telah menutup sebanyak 1.329 perlintasan liar sebagai bagian dari pengendalian risiko di titik-titik rawan. Secara rinci, pada 2021 terdapat 324 penutupan perlintasan liar, tahun 2022 sebanyak 292 penutupan, tahun 2023 sebanyak 107 penutupan, tahun 2024 sebanyak 289 penutupan, tahun 2025 sebanyak 273 penutupan, dan pada Januari hingga April 2026 sebanyak 44 penutupan.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menciptakan ruang perjalanan yang lebih aman dan mengurangi potensi kecelakaan di perlintasan.
KAI juga mencatat saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.810 titik menjadi fokus peningkatan keselamatan secara bertahap. Sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk penataan dan penutupan karena kondisi jalan terbatas, sementara 1.638 perlintasan lainnya diprioritaskan untuk peningkatan fasilitas keselamatan.
Data KAI menunjukkan sekitar 80 persen kejadian di perlintasan terjadi pada titik yang tidak terjaga. Dalam periode 2023 hingga 2026, tercatat 948 korban dalam berbagai kejadian di perlintasan sebidang. Faktor terbesar dipicu perilaku menerobos, tidak berhenti, maupun kurang memperhatikan kondisi sekitar sebelum melintas.
Menurut Anne, beberapa detik untuk berhenti sebelum melintas sering kali menjadi keputusan penting yang membantu melindungi keselamatan pengguna jalan maupun perjalanan kereta api yang sedang membawa ratusan bahkan ribuan pelanggan.
“Kereta api berjalan di jalurnya dan memerlukan ruang aman dalam setiap perjalanan. Karena itu, pengguna jalan perlu berhenti terlebih dahulu, tengok kanan kiri, lalu memastikan kondisi benar-benar aman sebelum melintas,” jelas Anne.
Sebagai bagian dari peningkatan keselamatan, KAI akan terus memperkuat berbagai langkah di perlintasan sebidang melalui pemasangan sirine dan lampu peringatan, CCTV, panic button, penguatan penjagaan, hingga koordinasi bersama pemerintah pusat dan daerah.
Anne menambahkan, budaya tertib di perlintasan akan memberi dampak besar terhadap keselamatan perjalanan masyarakat setiap hari.
“Keselamatan sering dimulai dari tindakan sederhana. Berhenti sejenak sebelum melintas menjadi bentuk kepedulian agar setiap perjalanan dapat berlangsung aman dan selamat,” tutup Anne.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































