Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Unit Pengelola Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo berencana membuka kembali jalur pendakian di Gunung Arjuno dan Welirang, Jawa Timur pada Kamis, 7 Mei 2026.
"Pembukaan pendakian (Arjuno dan Welirang) dilaksanakan pada 7 Mei 2026 tetapi untuk registrasi (pendaki) mulai pada 6 Mei 2025 dan dibuka secara online," kata Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat UPT Tahura Raden Soerjo Ajat Sudrajat di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.
Pembukaan ini juga memperhatikan perkembangan kondisi cuaca terkini. Sebab, penutupan jalur pendakian di dua gunung tersebut yang dilakukan sejak November 2025 dikarenakan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
Selain itu, penutupan jalur pendakian Gunung Arjuno dan Welirang menjadi upaya pemulihan ekosistem.
Baca juga: TNBTS buka kembali jalur pendakian Gunung Semeru pada 24 April 2026
Proses registrasi pendakian dilakukan dengan mengakses laman tahurarsoerjo.dishut.jatimprov.go.id/sipenerang atau bisa juga melalui layanan di tiket pendakian.
Mengutip laman tahurarsoerjo.dishut.jatimprov.go.id/sipenerang, tarif pendakian Gunung Arjuno, Welirang, dan Bukit Lincing sebesar Rp20 ribu per orang per hari untuk pendaki Warga Negara Indonesia dan Rp200 ribu per orang per hari bagi pendaki warga negara asing.
Kuota pendakian harian yang dibuka oleh UPT Tahura Raden Soerjo berkisar antara 500 pendaki sampai dengan 550 pendaki.
Adapun empat titik pintu atau pos masuk ke jalur pendakian Gunung Arjuno dan Welirang, yaitu melalui Lawang di Kabupaten Malang dan Sumber Brantas di Kota Batu. Selanjutnya, Tretes dan Tambaksari di Kabupaten Pasuruan.
Baca juga: Kemenhut gandeng musisi kampanyekan pendakian aman lewat lagu Merbabu
"Syarat (pendakian) diantaranya KTP, surat keterangan izin orang tua bagi pendaki yang berusia 10-18 tahun, dan surat sehat (rumah sakit, puskesmas, dokter praktik, dan klinik)," ujarnya.
Setiap pendaki diminta untuk mematuhi segala standar operasional prosedur pendakian yang telah ditetapkan, khususnya terlibat di dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan wajib membawa turun sampah logistik sesuai jumlah yang dibawa ketika datang mendaki.
Ia menegaskan petugas di masing-masing pintu pos pendakian akan melakukan pengecekan dan menghitung jumlah logistik yang dibawa oleh para pendaki.
"Kalau misalnya dia membawa empat botol minuman air mineral maka turunnya harus membawa sebanyak empat botol itu juga. Jangan sampai ada yang membuang sampah sembarangan," kata dia.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































