Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat pagi, bergerak melemah 14 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.928 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.904 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova mengatakan pelemahan dipengaruhi volatilitas harga minyak dunia.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.870 - Rp16.920 dipengaruhi oleh global harga minyak dunia yang masih dengan volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Mengutip Sputnik, anggota parlemen Iran Mohammadreza Rezaei Kouchi menyatakan Iran ingin melegalkan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Pada 24 Maret 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Iran sudah mulai mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp33,8 miliar) bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Eskalasi di sekitar Iran menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Kondisi itu juga mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut dan mendorong kenaikan harga di dunia.
Melihat sentimen domestik, pasar disebut khawatir atas peningkatan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak, diiringi kewaspadaan potensi defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) terlampaui.
“Sebelum pecah perang AS-Israel dan Iran tren inflasi sudah mulai meningkat, ditambah kenaikan harga minyak yang akan menambah biaya produksi industri dan harga jual barang,” ungkap Rully.
“Langkah yang dapat dilakukan pemerintah di antaranya dengan menjaga daya beli masyarakat melalui program-program di antaranya bantuan tunai dan insentif listrik serta penghematan di lembaga dan kementerian,” ujar dia.
Baca juga: Rupiah diprediksi melemah seiring skeptisisme perdamaian AS-Iran
Baca juga: Strategi dua arah menghadapi lonjakan harga minyak
Baca juga: Seberapa siap Indonesia menghadapi ancaman resesi
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































