Jakarta (ANTARA) - Siang itu matahari bersinar secerah senyum di wajah Mukhriji (21), narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Ciangir, Banten, yang mengabarkan bahwa salah satu domba yang dirawatnya baru saja melahirkan.
Bayi domba berjenis kelamin betina itu terlihat sehat, suaranya embikannya menggema memenuhi kandang, seolah menyapa sejumlah wartawan yang datang meliputi program ketahanan pangan di lapas dengan sistem keamanan tingkat minimum tersebut.
Karena baru lahir, bayi domba tersebut belum diberi nama. Tapi kelahiran bayi domba tersebut membawa harapan baru bagi Mukhriji bahwa ilmu peternakan yang dia miliki cukup mumpuni.
Sudah satu bulan Mukhriji mendapat kepercayaan untuk merawat domba-domba yang dibudidayakan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Terbuka Ciangir. Total ada dua narapidana yang dipercaya untuk bagian peternakan domba. Mereka mengikuti program pembinaan kemandirian.
Sebuah berkah bagi pemuda asal Banten itu karena dapat mengikuti program pembinaan kemandirian di peternakan domba menjelang kembali ke masyarakat setelah menjalani pidana penjara.
Selama berada di Lapas Terbuka Ciangir, Mukhriji merasa tidak sedang menjalani hukuman penjara. Selama di lapas terbuka tersebut, ia lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, dan ruang tahanannya pun tidak berupa sel, tapi kamar yang ditempati sejumlah warga binaan.
Hari-hari selama menjalani pemidanaan, Mukhriji lebih banyak menghabiskan waktu di kandang, merawat domba-domba, memberikan makan, membersihkan kandang, memberikan obat untuk domba yang sakit. Dan kembali ke kamar bila telah malam.
Ia bertekad setelah bebas nanti akan kembali mengembangkan peternakan domba yang ada di kampung halamannya.
"Sebelumnya saya enggak punya ilmu sama sekali soal beternak domba. Setelah dilatih di sini, sekarang saya sudah punya ilmunya, sudah tahu cara mengobati domba yang sakit," kata Mukhriji.
Ketahanan pangan
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































