Jakarta (ANTARA) -
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta memprediksi perekonomian di daerah khusus ibu kota tersebut tetap tumbuh kuat di tengah ketidakpastian global.
“Perekonomian DKI Jakarta diprakirakan tetap tumbuh kuat didukung oleh terjaganya permintaan domestik dan keberlanjutan pengerjaan proyek strategis nasional maupun daerah,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Bambang Arianto di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, maraknya agenda Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dan event kebudayaan hingga akhir tahun ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah setempat.
Dengan demikian, kata dia, di tengah ketidakpastian kondisi global, stabilitas inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran.
Selain itu, akselerasi transformasi digital juga diharapkan menjadi tumpuan utama penopang daya beli masyarakat.
“Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jakarta secara keseluruhan pada tahun 2026 berada pada tren positif yang solid, selaras dengan penguatan posisi Jakarta sebagai pusat bisnis dan jasa berskala internasional,” ujar Bambang.
Dia menyebutkan dari segi lapangan usaha dan sektor-sektor pendukung ekonomi, pertumbuhan ekonomi Jakarta didorong oleh kinerja positif lapangan usaha perdagangan besar dan eceran yang tumbuh 6,83 persen year-on-year (yoy) dan lapangan usaha konstruksi yang tumbuh 5,96 persen (yoy).
“Kinerja sektor terkait ekonomi kreatif juga menunjukkan penguatan nyata,” tutur Bambang.
Baca juga: BI DKI perkuat ekosistem ekonomi kreatif lewat JEF 2026
Lebih lanjut, dia mengatakan lapangan usaha sektor penyediaan akomodasi dan makan minum atau kuliner serta pariwisata tumbuh kuat sebesar 9,52 persen (yoy). Kondisi ini sejalan dengan peningkatan kunjungan wisatawan dan akomodasi hotel.
Sementara itu, lapangan usaha sektor informasi dan komunikasi tumbuh sebesar 5,97 persen (yoy) yang mencerminkan pesatnya layanan dan transaksi berbasis aplikasi, konten, dan media digital di Jakarta.
“Sektor kreatif lainnya, seperti fesyen dan kerajinan (kriya) turut mencatatkan perluasan pasar melalui dorongan digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan ekosistem QRIS yang semakin inklusif,” tutur Bambang.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II 2026 tumbuh kuat sebesar 5,52 persen year-on-year (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen (yoy).
Kinerja positif tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang tetap solid, investasi yang terakselerasi, serta kinerja lapangan usaha utama.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,18 persen (yoy) yang didukung oleh maraknya penyelenggaraan event besar seperti Jakarta Fair Kemayoran dan periode libur sekolah.
Sementara itu, investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,52 persen (yoy) dan konsumsi pemerintah tumbuh tinggi sebesar 14,70 persen (yoy) seiring penyaluran gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN).
Baca juga: BI DKI bangun kolaborasi perkuat ekosistem sistem pembayaran
Baca juga: BI DKI perkuat pengawasan penyelenggara jasa sistem pembayaran digital
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































