Efek samping matcha yang jarang diketahui, jangan minum berlebihan

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Dalam beberapa tahun terakhir, matcha semakin digemari masyarakat. Minuman berwarna hijau cerah asal Jepang ini kini mudah ditemukan di berbagai kedai kopi, restoran, hingga minimarket. Tak hanya disajikan sebagai teh, matcha juga diolah menjadi latte, es krim, kue, smoothie, hingga berbagai makanan penutup.

Popularitas matcha tidak lepas dari citranya sebagai minuman yang lebih sehat. Matcha dikenal kaya akan antioksidan, terutama katekin jenis epigallocatechin gallate (EGCG), yang dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari menjaga kesehatan jantung hingga membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Namun, di balik manfaat tersebut, matcha tetap perlu dikonsumsi secara bijak. Kandungan kafein yang cukup tinggi serta senyawa aktif lainnya dapat menimbulkan efek samping, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.

Baca juga: Teh hijau punya dampak baik bagi kesehatan hati

Mengapa matcha berbeda dari teh hijau biasa?

Meski sama-sama berasal dari tanaman Camellia sinensis, matcha dan teh hijau memiliki cara pengolahan yang berbeda.

Pada matcha, daun teh ditanam di tempat yang teduh sebelum dipanen, kemudian dikeringkan dan digiling hingga menjadi bubuk halus. Karena dikonsumsi dalam bentuk bubuk yang dilarutkan ke dalam air, seluruh bagian daun teh ikut diminum.

Hal inilah yang membuat matcha mengandung antioksidan dan kafein dalam konsentrasi lebih tinggi dibandingkan teh hijau seduh biasa.

Efek samping akibat kandungan kafein

Salah satu efek samping yang paling sering dikaitkan dengan konsumsi matcha adalah tingginya asupan kafein.

Dalam satu porsi matcha dapat terkandung sekitar 38 hingga 89 miligram kafein, tergantung jenis bubuk dan cara penyajiannya. Jumlah ini memang masih bervariasi, tetapi bisa lebih tinggi dibandingkan secangkir teh hijau biasa.

Bagi sebagian orang, konsumsi kafein berlebihan dapat menyebabkan jantung berdebar, sulit tidur, gelisah, sakit kepala, hingga tremor atau tangan gemetar. Orang yang sensitif terhadap kafein biasanya lebih mudah mengalami keluhan tersebut meski hanya mengonsumsi sedikit matcha.

Karena itu, mengonsumsi matcha pada malam hari sebaiknya dihindari jika Anda memiliki gangguan tidur atau mudah mengalami insomnia.

Baca juga: Teh jahe dapat bantu melancarkan pencernaan setelah makan siang

Dapat mengganggu lambung

Matcha memiliki kandungan tanin dan kafein yang dapat meningkatkan produksi asam lambung pada sebagian orang.

Akibatnya, mengonsumsi matcha saat perut kosong berpotensi memicu rasa mual, nyeri ulu hati, atau memperburuk gejala penyakit asam lambung (GERD). Untuk mengurangi risiko tersebut, sebaiknya matcha dikonsumsi setelah makan.

Tidak selalu rendah kalori

Banyak orang memilih matcha karena dianggap sebagai minuman sehat untuk diet. Anggapan tersebut memang benar jika yang dikonsumsi adalah matcha murni tanpa tambahan gula atau krimer.

Namun, sebagian besar minuman matcha yang dijual di kafe biasanya ditambahkan gula, susu, sirup, atau whipped cream. Bahan tambahan tersebut justru dapat meningkatkan kandungan kalori dan gula secara signifikan.

Karena itu, penting untuk memperhatikan komposisi minuman, bukan hanya bahan utama berupa matcha.

Berpotensi mengganggu penyerapan zat besi

Seperti teh pada umumnya, matcha mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme, yaitu zat besi yang berasal dari makanan nabati.

Efek ini umumnya tidak menjadi masalah bagi orang yang memiliki pola makan seimbang. Namun, orang yang mengalami anemia defisiensi besi atau berisiko kekurangan zat besi sebaiknya tidak mengonsumsi matcha bersamaan dengan waktu makan utama.

Baca juga: Usia satu abad! warisan teh melati Fuzhou dorong wisata budaya lokal

Perhatikan kualitas produk

Karena matcha berasal dari daun teh yang dikonsumsi seluruhnya, kualitas produk menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daun teh dapat menyerap logam berat atau kontaminan dari lingkungan tempat tanaman tumbuh. Oleh karena itu, memilih produk matcha dari produsen yang terpercaya dapat membantu mengurangi risiko paparan zat yang tidak diinginkan.

Berapa banyak matcha yang aman dikonsumsi?

Pada dasarnya belum ada batas khusus mengenai konsumsi matcha bagi orang sehat. Namun, para ahli menyarankan agar total asupan kafein dari seluruh sumber tidak melebihi sekitar 400 miligram per hari untuk sebagian besar orang dewasa yang sehat.

Satu hingga dua cangkir matcha per hari umumnya masih dianggap aman bagi kebanyakan orang, selama tidak disertai konsumsi minuman berkafein lain dalam jumlah berlebihan.

Sementara itu, ibu hamil, ibu menyusui, penderita gangguan jantung, hipertensi yang belum terkontrol, atau orang yang sensitif terhadap kafein sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai batas konsumsi yang sesuai.

Tetap sehat jika dikonsumsi dengan bijak

Matcha memang menawarkan berbagai manfaat kesehatan berkat kandungan antioksidan yang tinggi. Namun, manfaat tersebut tidak berarti matcha bebas dari efek samping.

Mengonsumsi matcha dalam jumlah wajar, memilih produk berkualitas, serta menghindari tambahan gula berlebihan merupakan cara terbaik untuk mendapatkan manfaatnya tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Seperti halnya makanan dan minuman lain, kunci utama bukan hanya memilih bahan yang dianggap sehat, tetapi juga menjaga pola makan secara keseluruhan agar tetap seimbang, demikian merangkum sejumlah sumber.

Baca juga: Ahli: Kualitas teh utamanya ditentukan oleh pucuk daun

Baca juga: Cara menyeduh teh yang benar menurut pakar, hindari kebiasaan ini

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |