Jakarta (ANTARA) - Pemerintah mendorong pengoptimalan pemanfaatan local currency transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal, sebab sebagian besar mitra dagang utama Indonesia merupakan negara dengan ekonomi nondolar.
“Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Saat ini, partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai sekitar 10–19 persen dari total Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT). Hal ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan dan ruang yang signifikan untuk ekspansi lebih lanjut.
Kerangka LCT Indonesia telah terus berkembang sejak diluncurkan pada 2018. Pemanfaatannya telah meluas pada berbagai sektor utama, termasuk manufaktur, listrik dan gas, transportasi, perdagangan, dan jasa.
Pemanfaatan itu menunjukkan peran LCT sebagai instrumen nyata untuk memperkuat rupiah dan mendukung kegiatan sektor riil.
Pada 2025, kerangka LCT telah diimplementasikan dengan enam mitra utama yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab.
Kerja sama juga diperkuat melalui perluasan dan peningkatan pengaturan bilateral yang mencerminkan kemajuan signifikan guna memperdalam kerja sama keuangan regional dan mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas.
Ferry menyampaikan transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi dan adopsi pasar.
Pada Januari–Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar 8,45 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar 3,21 miliar dolar AS.
“Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna,” kata Ferry.
LCT memungkinkan transaksi lintas batas diselesaikan langsung dalam mata uang lokal tanpa bergantung pada mata uang utama seperti dolar AS.
Implementasi LCT didukung tiga komponen utama yakni fleksibilitas Foreign Exchange Administration (FEA), Mekanisme Pengawasan dan Pemantauan, serta Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
Untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan LCT, pemerintah Indonesia telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang terdiri dari 10 kementerian dan lembaga.
Gugus tugas ini memperkuat koordinasi, mendukung pengembangan kebijakan, dan mempercepat adopsi transaksi mata uang lokal, khususnya dalam kegiatan ekspor-impor.
Melalui LCT pemerintah berkomitmen menyediakan fasilitas, insentif dan proses yang disederhanakan bagi pelaku bisnis, guna meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya transaksi, dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
“Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal dan penguatan kerja sama keuangan multilateral,” ujar Ferry.
Baca juga: BI: Indonesia perkuat komitmen penggunaan LCT bersama ASEAN
Baca juga: BI: Transaksi LCT RI-Tiongkok capai ekivalen 6,23 miliar dolar AS
Baca juga: Transaksi LCT capai 11,7 miliar dolar AS pada semester I 2025
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































