Jakarta (ANTARA) - Industri perfilman Indonesia pada 2025 menjelma sebagai pilar kekuatan ekonomi yang semakin masif dengan perputaran modal yang ditaksir menembus angka triliunan rupiah.
Transformasi besar ini lahir dari kematangan ekosistem yang kian hari memiliki kualitas kompetitif terhadap karya mancanegara, terutama dari sisi raihan jumlah penonton yang sangat signifikan.
Fenomena tahun ini menandai berakhirnya rekor industri pada satu genre tertentu di tahun sebelumnya, sekaligus mengukuhkan posisi film lokal sebagai pemimpin pasar domestik.
Sektor komedi masih mengukuhkan posisinya sebagai primadona bagi penonton lokal. Pencapaian ini terlihat jelas melalui film terbaru grup siniar Agak Laen, Agak Laen: Menyala Pantiku!.
Berdasarkan data performa pasar Cinepoint, film tersebut sukses menembus angka 9.058.670 penonton hingga Desember 2025.
Jika dihitung berdasarkan median angka rata-rata harga tiket nasional sebesar Rp50.000 (antara Rp25 ribu hingga Rp75.000), karya ini ditaksir sanggup meraih pendapatan bruto sekitar Rp450 miliar.
Keberhasilan grup Agak Laen menarik perhatian para investor karena mereka menggunakan model bisnis yang berbasis pada kekuatan komunitas komika serta penggemar yang sangat loyal dari berbagai daerah.
Strategi pemasaran film ini sangat menarik untuk dipelajari; mereka tidak hanya mengandalkan promosi konvensional, tetapi memanfaatkan ekosistem digital dan interaksi langsung dengan audiens yang sudah dibangun melalui platform lain.
Penonton di tahun 2025 tampak cenderung lebih memilih karya yang terasa "dekat" secara emosional namun tetap disajikan dengan standar teknis yang mumpuni.
Pecah rekor
Kejutan terbesar tahun ini muncul dari sektor animasi melalui Jumbo karya Ryan Adriandhy yang memecah rekor jumlah penonton film Indonesia sepanjang masa dengan angka 10.233.002 penonton, melewati pencapaian film horor KKN di Desa Penari yang telah bertahan selama hampir tiga tahun.
Pencapaian Jumbo ditaksir sanggup mencapai pendapatan bruto Rp512 miliar. Angka yang memberikan angin segar pada pelaku animasi lokal.
Dampak ekonomi karya di sektor animasi ini sangat besar jika digarap dengan serius dan mendalam, sekitar lima tahun.
Animasi juga dapat menjadi aset ekonomi strategis yang memiliki masa simpan panjang. Kekayaan intelektualnya dapat dieksplorasi lebih luas, semisal melalui kolaborasi dengan sektor transportasi kereta api, produk es krim, dan lain-lain guna memastikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































