Bruno Fernandes, Menkeu Purbaya: Melebur panggung dramaturgi

2 hours ago 2
Jika pesimistis dengan kelakuan minor para pejabat, maka jangan kehilangan harapan karena masih ada Purbaya Yudhi Sadewam yang, setidaknya sampai hari ini, masih fokus untuk membenahi perekonomian bangsa

Jakarta (ANTARA) - Sebagai penggemar sepakbola, saya ingin memberikan analogi yang sedikit berbau "Si Kulit Bundar" dalam bahasan kali ini.

Manchester United (MU), yang dulu hampir setiap musim menjadi pemburu gelar dan pemilik koleksi trofi Liga Inggris terbanyak, belakangan terseok-seok hingga bersaing memperebutkan posisi empat besar pun terasa amat berat.

Di tengah performa yang membuat para pendukungnya gelisah, muncul satu sosok yang menjadi oase di tengah padang pasir: sang kapten Bruno Miguel Borges Fernandes.

Meski awal kedatangannya tidak terlalu diharapkan dan banyak yang pesimis, gelandang nomor punggung 8 asal Portugal itu justru menjelma menjadi idola baru karena konsistensinya tampil berbeda ketika rekan-rekannya jauh dari ekspektasi. Setiap tendangan dan umpannya memberi harapan, seakan ia menggendong United di punggungnya, menjadikannya pemain terbaik klub pada masa sulit ini.

Ilustrasi tersebut pas untuk menggambarkan sosok Purbaya Yudhi Sadhewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) yang naik panggung menggantikan Sri Mulyani. Pada hari pertama saat acara serah terima jabatan di Kementerian Keuangan, ia langsung mencuri perhatian.

Purbaya kemudian dijuluki dengan sebutan Menteri Koboi dengan gaya bicaranya yang khas dan ceplas-ceplos. Beberapa ada yang pesimistis, ada juga yang tetap menaruh harapan.

Tampilan Purbaya berbeda dari pejabat setingkat menteri pada umumnya. Ia terkesan tidak jaim. Ia tidak segan-segan mempertahankan kebiasaan makan di pedagang kaki lima. Tidak segan-segan mengkritik sesama menteri jika memang ada yang melakukan hal yang tak pas. Purbaya tidak takut untuk menyatakan hal-hal jelek jika memang ada yang tidak baik. Dia orang yang simpel.

Kemudian, terobosan-terobosan baru dilakukan oleh Purbaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia. Purbaya mengalihkan sekitar Rp200 triliun dari kas “tabungan suram” pemerintah (anggaran surplus masa lalu) ke bank-bank pelat merah, dengan harapan dana ini bisa beredar: untuk kredit, pembiayaan, dan memperlancar sektor riil.

Ia menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan anggaran di Indonesia. Menteri keuangan sebelumnya cenderung hati-hati dalam mengeluarkan anggaran, melakukan penghematan dan memaksimalkan pendapatan negara dari sektor pajak. Purbaya berbeda. Ia memindahkan fokus percepatan ekonomi lewat pertumbuhan sektor riil.

Setidaknya, logika kebijakan yang diambil bisa diterima oleh masyarakat yang awam. Jika sektor riil tidak tumbuh, ekonomi tidak bergerak, bagaimana pajak bisa dibayarkan oleh wajib pajak?

Tepat atau tidaknya, biar para ahli ekonomi yang menilai.

Gaya komunikasi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |