Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan pihaknya tengah menyiapkan berbagai solusi untuk menekan tingkat polusi udara di ibu kota.
Hal itu disampaikan Pramono menanggapi kondisi kualitas udara Jakarta yang berdasarkan laman pemantau IQAir pada Minggu (3/5) pagi pukul 06.00 WIB berada dalam kategori tidak sehat, bahkan sempat tercatat sebagai yang terburuk di dunia.
“Yang jelas Jakarta segera berbenah menangani persoalan polusi,” ujar Pramono di Jakarta Pusat, Senin.
Pramono menjelaskan, salah satu langkah utama yang tengah didorong adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Jakarta.
Menurut Pramono, fasilitas tersebut nantinya ditargetkan mampu menghasilkan listrik hingga sekitar 120 megawatt setelah beroperasi penuh.
Ia berharap, kehadiran PLTSa mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbasis fosil yang masih menjadi salah satu penyumbang emisi di wilayah sekitar Jakarta.
Pada hari ini, Pemerintah DKI Jakarta juga telah menandatangani kerja sama dengan Danantara untuk pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di ibu kota pada hari ini.
Baca juga: Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia pada Minggu pagi
Lebih lanjut, Pramono juga menyoroti keberadaan industri berbasis batu bara di luar Jakarta, seperti di kawasan Suralaya, yang turut berdampak pada kualitas udara di ibu kota.
“Kalau itu bisa dikurangi, terutama di daerah Suralaya yang kemudian udaranya masuk ke Jakarta, itu akan secara signifikan mengurangi polusi,” jelas Pramono.
Selain sektor energi, Pemprov DKI juga menargetkan transformasi besar pada sektor transportasi.
Pramono menyebut pada 2030 mendatang, seluruh armada bus Transjakarta ditargetkan sudah beralih ke bus listrik.
“Dalam program ke depan, saya menargetkan tahun 2030 Jakarta sudah betul-betul semua busnya EV bus atau bus listrik yang jumlahnya kurang lebih 10.000 unit,” ungkap Pramono.
Saat ini, peralihan transportasi umum ke listrik sudah mulai berjalan. Diketahui pada tahun ini, jumlah bus listrik di Jakarta mencapai 460 unit, dan akan terus ditambah pada tahun-tahun mendatang.
Sebelumnya, berdasarkan data IQAir, kualitas udara Jakarta pada Minggu pagi mencatat skor 182 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 100 mikrogram per meter kubik, yang masuk kategori tidak sehat.
Dalam peringkat kota dengan kualitas udara terburuk dunia pada waktu tersebut, Jakarta berada di posisi teratas, disusul Dhaka (Bangladesh) dengan skor 153, Lahore (Pakistan) 135, dan Baghdad (Irak) 134.
Baca juga: DKI identifikasi ulang aksi yang bisa kendalikan polusi udara
Baca juga: Masyarakat sipil dorong Pramono perkuat strategi atasi polusi udara
Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































