Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menyatakan keanekaragaman hayati (kehati) menjadi sumber masa depan Indonesia.
“Keanekaragaman hayati itu adalah sesuatu yang tampaknya sehari-hari sangat biasa tentang hutan, satwa liar, atau kawasan konservasi. Padahal sadar atau tidak, keanekaragaman hayati ini adalah sumber masa depan kita. Setiap hari kita menikmati sumber pangan, perikanan, rempah, obat-obatan, dan itu semua merupakan sumber hayati yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kita,” ucapnya dalam agenda Peluncuran Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua di Jakarta, Selasa.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), keanekaragaman hayati menjadi bagian penting untuk mewujudkan lingkungan hidup berkualitas, serta mendorong penerapan ekonomi hijau.
Pada paparannya, keanekaragaman hayati Indonesia dinilai mendukung ekonomi, ketahanan ekosistem, dan pembangunan berkelanjutan. Tercatat, terdapat 22 jenis ekosistem dari 7 region Indonesia, dengan 31.031 spesies flora dan 744.279 spesies fauna terestrial dan laut.
Keanekaragaman hayati sendiri hadir dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, yakni sebagai sumber pangan (karbohidrat, lemak, buah, rempah), ketahanan energi (biogas, bioetanol, biodiesel), obat-obatan (tanaman obat, jamu, biofarmaka), budaya lokal (identitas kearifan lokal, warisan leluhur), dan mata pencaharian bagi masyarakat desa maupun pesisir.
Baca juga: Menteri LH: Berbagai negara ingin Indonesia pimpin isu biodiversitas
Baca juga: Bappenas perkuat penyediaan data ilmiah keanekaragaman hayati
Pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dapat mendukung pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, mengingat per tahun 2025 ada sebanyak Rp348 miliar Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari pemanfaatan jasa lingkungan serta tumbuhan dan satwa liar (TSL), Rp8,48 triliun nilai ekspor TSL dan bioprospecting, hingga 6,27 miliar dolar AS ekspor perikanan.
Adapun strategi kunci untuk mengelola keanekaragaman hayati yaitu optimalisasi sumber energi baru terbarukan mengingat baru 0,08 persen yang termanfaatkan, potensi kredit karbon sebesar 17 miliar dolar AS, hingga hilirisasi industri yang mampu menarik investasi 46,4 miliar dolar AS dan 180 ribu lapangan kerja baru.
Selain itu, upaya mitigasi dan konservasi keanekaragaman hayati dapat berkontribusi secara langsung terhadap tujuan penanganan perubahan iklim Indonesia. Hal ini menimbang produktivitas penyerapan karbon Indonesia sangat tinggi, dengan 80 persen wilayah daratan Tanah Air mengandung kehati yang tinggi, 52 persen wilayah daratan mengandung karbon tak tergantikan, dan 17 persen simpanan karbon dunia berasal dari ekosistem biru Indonesia.
“Di dalam Indonesia Biodiversity Strategic Action Plan (IBSAP) 2025-2045 sebagai dokumen rujukan nasional dalam keanekaragaman Hayati, IBSAP ini akan mendukung implementasi dalam penguatan data yang lebih akurat, mutakhir, dan berbagai bukti ilmiah yang selanjutnya akan menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam pengembangan masa depan kita,” ungkap Kepala Bappenas.
Baca juga: Diplomasi lingkungan untuk kelestarian alam Indonesia
Dia menekankan bahwa pemanfaatan keanekaragaman hayati harus dilakukan melalui hilirisasi, tidak lagi bisa dilakukan secara ekstraktif.
“Karena itu, kita bekerja sama dengan negara maju, kita bekerja sama dengan pemerintah federal Jerman. Kita ingin keanekaragaman hayati kita suatu saat bisa seperti Mercedes, bisa seperti BMW,” kata Rachmat.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































