KNKT ingatkan empat hal krusial keselamatan kendaraan darat

2 months ago 20

Bengkulu (ANTARA) - Penyelidik Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengingatkan empat hal krusial yang terkadang pengendara baik motor atau pun mobil lalai dan akhirnya mengakibatkan kecelakaan.

"Pertama rem, minyak rem, piringan rem dan cara mengerem itu sangat penting terkait keselamatan," kata Penyelidik Senior KNKT Ahmad Wildan, di Bengkulu, Selasa.

Dia mengatakan minyak rem memiliki titik didih yang tinggi agar tetap mampu bekerja ketika terjadi panas saat pengereman, minyak rem bertugas menekan kaliper rem agar tetap menjepit piringan rem.

Ketika, minyak rem masuk air 3 persen saja titik didihnya akan turun drastis mendekati titik didih air. Hal tersebut tentunya akan membahayakan karena panas pengereman lebih tinggi dari titik didih minyak rem akan mengakibatkan rem blong.

"Jadi hati-hati (soal rem), apalagi yang pake motor matik dan di jalan turun. Harus tahu, biar motor ada yang menahan remnya (tidak blong), usahakan dalam mengerem gantian yang depan, belakang, jangan bersamaan agar kedua rem tidak kepanasan dan mengakibatkan rem blong," ucapnya.

Wildan menyampaikan hal tersebut saat memberikan materi peningkatan wawasan budaya berkendara aman pada generasi muda pelajar di Bengkulu. Wildan memberikan edukasi itu pada kegiatan seminar dan kampanye keselamatan lalu lintas bertajuk “Membangun Budaya Berkendara Aman dan Bertanggung Jawab” yang digelar PT SAN Putra Sejahtera, pemilik Perusahaan Otobus Siliwangi Antar Nusa (PO. SAN), di Kantor Pusat SAN di Bengkulu.

"Piringan rem juga tidak boleh disiram saat masih panas, mungkin sebagian kita berinisiatif menyiram agar cepat dingin mencegah rem blong, tapi ketika piringan disiram, piringan tidak lagi rata, dan juga rawan patah di kemudian hari, ini malah membahayakan sisi pengereman," kata dia.

Hal krusial kedua yang pengendara tidak boleh lalai terhadap kendaraannya yakni soal ban, tekanan angin ban harus sesuai agar tidak mudah pecah saat berkendara. Selain itu, Wildan tidak menyarankan penggunaan ban cadangan menjadi ban utama saat berkendara.

"Kadang kita berpikir tekanan angin yang kencang yang membuat ban gampang pecah, sebenarnya ban dengan angin yang kurang yang lebih rawan pecah, begitu tekanan anginnya kurang, ban itu berjalan diseret, tapak yang menempel ke jalan lebih lebar dan lebih mudah panas, sehingga terjadi polimerisasi, struktur pembentuk ban akan mengurai," ucapnya.

Sementara penggunaan ban cadangan kata dia tidak boleh untuk perjalanan panjang, atau jika ingin menjadikan ban cadangan sama kinerjanya dengan ban utama, ban tersebut pemakaiannya harus dirotasi dengan ban utama setiap 2 minggu atau maksimal 1 bulan sekali.

"Jadi ingat, ban cadangan tidak boleh dipakai untuk perjalanan panjang. Karena dia bisa pecah kapan saja. Ban itu ketika dijadikan ban cadangan dia akan terkena embun yang membuat peristiwa oksidasi, kalau di dinding kerusakan akibat oksidasi bisa terlihat dari luar, tapi kalau ban terjadinya di bagian dalam, jadi luarnya masih terlihat baik-baik saja," kata Wildan.

Hal krusial selanjutnya yang penting diperhatikan pengendara yakni terkait aquaplaning atau ban kehilangan kontak dengan aspal atau jalan karena ban terbungkus air.

Baca juga: Panduan lengkap mengemudi mobil bagi pemula: Cara aman & percaya diri

"Aquaplaning, jadi kita lagi naik motor, Jangan coba-coba naik motor kecepatan di atas 40 kilometer per jam, karena apa, karena ban motor ketika kecepatan di atas 40 km per jam akan dibungkus oleh air. Ketika ban dibungkus oleh air (ban tidak akan mencengkeram jalan)," ujarnya.

Hal krusial yang keempat lanjut dia yang perlu diingat pengendara adalah blind spot atau titik buta pengendara lain terutama kendaraan berbadan besar.

Banyak pengendara yang abai soal titik buta yang akhirnya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas karena pengendara motor atau pejalan kaki tidak terlihat oleh pengemudi kendaraan berbadan besar seperti truk dan bus.

"Yang harus kita tekankan kepada pengemudi sepeda motor atau sepeda, hati-hati, bisa jadi pengemudi bus dan truk ini tidak melihat Anda. Jangan beranggapan aman mau (asal) menyalip, atau berpikir truk atau bus bisa langsung mengerem kalau ada apa-apa. Kadang-kadang pesepeda motor sangat PD, terlalu PD, kalau memotong jalan, kendaraan belakang pasti ngerem," ujarnya.

Baca juga: 8 cara efektif hemat BBM mobil di tengah stok yang menipis

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |