Edukator pasar finansial ungkap penyebab utama “trader” gagal

5 days ago 9

Jakarta (ANTARA) - Edukator pasar finansial Jafar Tri Maulana menyatakan ada sejumlah hal yang membuat trader gagal dalam trading sehingga mengalami kerugian saat bermain di pasar.

“Faktor terbesar yang membuat seorang trader mengalami kerugian justru berasal dari dirinya sendiri,” katanya di Jakarta, Sabtu.

Jafar menilai kemampuan analisis teknikal memang penting, tetapi tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diimbangi dengan pengendalian emosi dan disiplin menjalankan manajemen risiko.

"Rata-rata orang rugi di trading bukan karena teknikalnya dan analisanya, tapi lebih ke dirinya sendiri," katanya.

Ia mengatakan pandangan ini lahir dari pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia trading.

Jafar mengaku pernah berada pada fase ketika keuntungan yang diperoleh justru berakhir menjadi kerugian karena tidak mampu mengendalikan emosi.

Ia mengungkapkan bahwa pada awal menekuni trading dan sempat menikmati keuntungan yang membuat rasa percaya dirinya meningkat.

Namun, euforia tersebut justru menjadi titik awal munculnya berbagai keputusan yang tidak rasional. Alih-alih menjalankan strategi yang telah disusun, dirinya mulai terdorong mengejar keuntungan lebih besar tanpa memperhitungkan risiko.

Akibatnya, keuntungan yang sebelumnya telah diperoleh perlahan terkikis hingga akhirnya berubah menjadi kerugian yang jauh lebih besar.

"Saya pernah hanya berpikir bagaimana caranya profit, tetapi lupa bahwa saya juga bisa mengalami kerugian. Profit memang ada, tetapi kerugiannya justru melebihi keuntungan yang saya dapatkan," ujarnya.

Jafar mengatakan pengalaman tersebut membuat ia menyadari bahwa keberhasilan seorang trader tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca arah pasar, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri ketika berada di bawah tekanan.

Menurut dia, banyak trader sebenarnya sudah memiliki metode analisis yang cukup baik. Bahkan, tidak sedikit yang mampu menghasilkan keuntungan pada tahap awal.

Namun, ketika rasa takut, serakah, atau terlalu percaya diri mulai mengambil alih, keputusan trading menjadi tidak objektif. Dia mengajak para trader untuk melihat pola yang sering terjadi di lapangan.

"Kalau seseorang awalnya bisa profit, lalu kemudian rugi besar, berarti yang bermasalah bukan tekniknya. Kalau tekniknya salah, sejak awal dia belajar pasti sudah rugi. Faktanya, sekitar 80 persen orang rugi karena emosinya dan pengendalian dirinya," kata dia

Ia mengatakan satu kesalahan yang paling sering dilakukan trader pemula adalah terburu-buru mengganti strategi setiap kali mengalami kerugian. Padahal, belum tentu sumber masalah berasal dari metode yang digunakan.

"Jangan ganti strateginya, tetapi ganti pola pikirnya. Kalau strateginya sudah sesuai, coba lihat lagi apakah diri kita sudah menjalankan SOP, money management, dan aturan yang sudah dibuat," katanya.

Ia menilai keinginan untuk cepat kaya sering kali membuat seseorang mengabaikan aturan yang sebelumnya telah disusun sendiri.

Ketika memperoleh keuntungan, trader menjadi terlalu percaya diri dan membuka posisi lebih besar.

"Sebaliknya, saat mengalami kerugian, mereka terdorong mengejar kerugian tersebut dengan mengambil risiko yang lebih tinggi," kata Jafar.

Baca juga: CEO Indodax ingatkan tak semua orang cocok menjadi "trader"

Baca juga: Lima Aplikasi Trading Populer di Indonesia

Baca juga: Naiknya tren trading via smartphone di Asia Tenggara

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |