Beijing (ANTARA) - China mendesak Filipina untuk menghentikan provokasi menyusul insiden terbaru di Laut China Selatan, kata Penjaga Pantai China, Senin (20/7).
Sebelumnya pada hari itu, Angkatan Bersenjata Filipina menuduh Penjaga Pantai China melukai seorang anggota Angkatan Laut Filipina di perairan strategis tersebut.
Sebaliknya, China mengatakan bahwa kapal kecil penjaga pantainya sedang berpatroli ketika sebuah kapal Filipina secara ilegal terdampar di perairan dekat Karang Renai di Laut China Selatan.
"Kapal Filipina mengabaikan peringatan berulang kali dan meluncurkan dua perahu karet yang dengan cepat dan berbahaya mendekati dan menabrak kapal patroli China. Kami menuntut agar Filipina segera menghentikan provokasinya," kata Penjaga Pantai China.
China mengatakan personel Filipina sengaja menyerang personel penjaga pantainya menggunakan dayung dan tongkat panjang.
Setelah insiden tersebut, Manila memutarbalikkan fakta dan menuduh Beijing—tuduhan yang sama sekali tidak benar, ujar Penjaga Pantai China.
Selama beberapa dekade, China terlibat dalam sengketa teritorial dengan beberapa negara Asia-Pasifik terkait pulau-pulau di Laut China Selatan, yang diyakini mengandung cadangan hidrokarbon yang signifikan.
Area yang diperebutkan dalam berbagai sengketa antara China dengan Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina itu meliputi Xisha (Kepulauan Paracel), Nansha (Kepulauan Spratly), dan Huangyan (Scarborough Shoal).
Pada Juli 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) di Den Haag memutuskan mendukung Filipina, dan menyatakan bahwa China tidak memiliki dasar hukum untuk klaim teritorialnya di Laut China Selatan.
Namun, Beijing menolak putusan tersebut dan menyatakan bahwa mereka tidak mengakui atau menerima keputusan pengadilan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: China tolak pernyataan AS, Filipina tentang Laut China Selatan
Baca juga: China jatuhkan sanksi kepada menteri pertahanan Filipina dan keluarga
Penerjemah: Yashinta Difa
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































