Gorontalo (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan dan menghentikan impor beras melalui peningkatan produksi pertanian serta perluasan areal tanam di berbagai daerah.
"Kita sudah swasembada, tidak impor lagi," kata Sudaryono saat memberikan sambutan pada kegiatan temu sukses petani, nelayan dan penyuluh di Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Selasa.
Menurut dia, keberhasilan tersebut dicapai melalui strategi sederhana namun konsisten, yakni meningkatkan luas tanam sehingga produksi dan hasil panen ikut meningkat.
"Rahasianya adalah banyak menanam sehingga banyak panen," ujarnya.
Pemerintah, kata dia, juga terus memperluas program cetak sawah di sejumlah daerah seperti Papua, Kalimantan Selatan, dan Gorontalo. Khusus di Gorontalo, luas cetak sawah mencapai sekitar 5.000 hektare.
Ia menjelaskan program cetak sawah dilakukan pada lahan yang sebelumnya belum produktif dan tetap mempertahankan hak kepemilikan masyarakat atas lahan tersebut.
Selain itu, pemerintah memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian untuk meningkatkan produktivitas petani.
Sudaryono mengatakan sektor pertanian saat ini telah menunjukkan kemajuan yang ditandai dengan peningkatan produksi sejumlah komoditas pangan.
Ia menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor cabai dan telur, bahkan telah melakukan ekspor telur, daging ayam, serta produk perikanan.
Sementara komoditas yang masih bergantung pada impor antara lain daging sapi, susu, bawang putih, kedelai, dan gandum.
"Kita terus berupaya agar ketergantungan impor komoditas tersebut dapat dikurangi melalui peningkatan produksi dalam negeri," katanya.
Baca juga: Dirut Bulog tegaskan komitmen kawal swasembada pangan berkelanjutan
Baca juga: Buka PENAS XVII, Gibran tegaskan RI harus pastikan kemandirian pangan
Gelar teknologi Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Selasa (23/6/2026). (ANTARA/Faradila Alim)Pewarta: Faradila Alim
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































