Wamen-KP dorong ekonomi sirkular dari sampah pesisir

1 hour ago 2
pengelolaan sampah pesisir perlu diintegrasikan dengan rantai pasok dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, industri, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen-KP) Didit Herdiawan Ashaf mendorong pengelolaan sampah di kawasan pesisir tidak berhenti pada kegiatan pembersihan, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang dapat menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Didit mengatakan pengelolaan sampah pesisir perlu diintegrasikan dengan rantai pasok dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, industri, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

“Mulai dari sampah organik didorong masuk ke rantai daur ulang. Dan pemrosesannya ini pun bersama-sama,” ujar Didit dalam dalam acara forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Jakarta, Senin.

Didit mengatakan pendekatan tersebut penting karena persoalan sampah di kawasan pesisir tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi pemerintah. Masyarakat sebagai pengguna kawasan, industri sebagai pelaku ekonomi, serta pemerintah perlu memiliki peran dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Didit mencontohkan langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui program pembersihan sampah plastik di laut atau Laut Sebasah. Dalam program tersebut, nelayan didorong untuk membawa kembali sampah yang mereka bawa saat melaut sehingga tidak dibuang ke laut.

“Kalau dia berangkat bawa tas plastik atau tas kresek empat, harus pulangnya bawa empat. Berangkatnya lima, pulangnya lima, tidak boleh dibuang di laut, inilah salah satu program kami untuk mengintervensi bahwa sampah plastik di laut itu bersih,” katanya.

Menurut Didit, intervensi ini juga merupakan bagian dari program integrasi agar daerah sekitar nelayan tidak kumuh.

Baca juga: Menteri KKP tegaskan KNMP harus tingkatkan produktivitas

Baca juga: KKP pacu ekonomi pesisir Konawe lewat Kampung Nelayan Merah Putih

Ia juga mengatakan pengelolaan sampah tersebut kemudian perlu dilanjutkan dengan pemilahan dan pengolahan agar sampah tidak sekadar dipindahkan dari laut ke tempat pembuangan, tetapi dapat masuk ke dalam rantai ekonomi.

Didit menekankan pengembangan model tersebut membutuhkan kolaborasi lintas pihak agar rantai pengumpulan hingga pemrosesan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pengembangan ekonomi sirkular tersebut juga menjadi bagian dari pendekatan KKP dalam membangun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Didit menekankan bahwa pembangunan kawasan nelayan tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur fisik, tetapi juga harus diikuti mitigasi, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan.

Dia mengatakan pembangunan KNMP perlu diintegrasikan dengan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan pesisir sehingga manfaat pembangunan tidak hanya berasal dari peningkatan produksi perikanan.

“Bukan hanya semata dibangun fisik, namun membangun fisik juga dengan seluruh kegiatan yang ada kaitan peningkatan kesejahteraan dan sosial di daerah masing-masing,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah pesisir berpeluang berkembang dari sekadar agenda kebersihan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat pesisir. Sampah yang dikumpulkan dan dipilah dapat menjadi bahan baku untuk kegiatan pengolahan dan daur ulang, sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Baca juga: KKP latih 120 keluarga nelayan di KNMP Konawe perkuat ekonomi pesisir

Baca juga: KKP minta TEP petakan potensi ekonomi biru di kawasan pesisir

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |